Memuat...

ISIS Serukan Anggotanya Lawan Pemerintahan Suriah di Bawah Ahmad asy Syaraa

Hanoum
Ahad, 22 Februari 2026 / 5 Ramadan 1447 03:47
ISIS Serukan Anggotanya Lawan Pemerintahan Suriah di Bawah Ahmad asy Syaraa
Presiden Ahmad asy Syaraa. [Foto: SANA]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Kelompok militan Islamic State (ISIS) menyerukan para anggotanya di Suriah untuk melawan pemerintahan baru yang dipimpin oleh Presiden Ahmad asy Syaraa, menolak otoritas pemerintahan sekuler yang bekerja sama dengan Amerika Serikat tersebut, dan mengajak faksi bersenjata serta pendukungnya bergabung dalam konflik yang lebih luas di negara itu. Pernyataan ini disampaikan melalui rekaman audio terbaru yang diunggah secara daring oleh juru bicara ISIS Abu Hudhayfah al-Ansari, yang menyerukan prioritas perjuangan melawan rezim yang berkuasa di Suriah.

Dalam rekaman suara terbaru yang beredar luas secara daring, seperti dikutip dari The Straits Times (22/2/2026), Abu Hudhayfah al Ansari, yang menjabat sebagai juru bicara ISIS sejak 2023, menyatakan bahwa anggota ISIS harus memerangi rezim Suriah baru dengan pemerintahnya yang sekuler dan tentara nasionalnya. Seruan ini menandakan penolakan keras kelompok militan ini terhadap legitimasi pemerintahan asy Syaraa serta seruan untuk memperluas dukungan militan di wilayah yang mereka anggap murtad.

Langkah ini muncul di tengah dinamika keamanan yang terus berubah di Suriah setelah pemerintahan transisi baru mengambil alih kendali dari rezim Bashar al Assad pada akhir 2024. Meskipun asy Syaraa pernah memimpin kelompok pemberontak dan berusaha membangun otoritas negara, ISIS tetap aktif sebagai kelompok pemberontak kecil yang mengandalkan jaringan sel dan propaganda daring untuk merekrut serta mengobarkan konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut. Pendukung ISIS telah lama mencoba mengekploitasi kekosongan keamanan di wilayah timur Suriah, terutama di sekitar Raqqa dan Deir ez-Zor, meskipun kelompok itu kehilangan wilayah teritorial utamanya sejak 2019.

Rekaman yang baru dirilis ini mempertegas bahwa ISIS tetap memposisikan dirinya sebagai ancaman terhadap stabilitas pemerintahan Suriah, meskipun pemerintah transisi berupaya membentuk aliansi internasional dan memperkuat kontrol administratifnya di berbagai provinsi.Kelompok militan itu juga telah dituduh bertanggung jawab atas serangan di Suriah selama beberapa tahun terakhir, termasuk klaim serangan terhadap pasukan pemerintah serta upaya untuk merebut kembali pengaruh di wilayah yang lebih luas, menurut laporan sebelumnya tentang aktivitas ISIS di negara itu. (hanoum/arrahmah.id)