GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya satu warga Palestina tewas dan satu lainnya terluka akibat serangan 'Israel' di berbagai wilayah Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Al Jazeera melaporkan bahwa seorang anak juga tewas setelah ditembak pasukan 'Israel' di wilayah Jabalia an-Nazla, Gaza utara. Selain itu, satu jenazah berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan 'Israel' sebelumnya, kata kementerian dalam pernyataan resminya.
Sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober, 'Israel' telah menewaskan sedikitnya 416 warga Palestina dan melukai 1.153 orang lainnya. Selama masa gencatan senjata tersebut, sekitar 683 jenazah ditemukan dari bawah puing-puing bangunan yang runtuh.
'Israel' juga terus melanjutkan pelarangan terhadap 37 organisasi bantuan kemanusiaan, termasuk Oxfam dan Doctors Without Borders (MSF), setelah organisasi-organisasi tersebut dilaporkan menolak menyerahkan data staf mereka di tengah tuduhan 'Israel', yang belum terbukti, tentang adanya “keterkaitan” dengan Hamas.
Kebijakan tersebut menuai kecaman dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa, yang memperingatkan bahwa langkah itu akan semakin memperburuk situasi kemanusiaan yang sudah bersifat katastrofik di Gaza.
Di Jalur Gaza, banyak keluarga mengawali tahun baru tanpa harapan yang jelas, di tengah pembatasan yang semakin ketat dan berkurangnya bantuan kemanusiaan.
Sementara itu di Tepi Barat, satu warga Palestina tewas dan dua lainnya terluka akibat tembakan pasukan 'Israel' di desa Luban al-Sharqiya, wilayah Nablus.
Dalam perkembangan lain, Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keputusan 'Israel' mencabut kewenangan pemerintah kota Hebron atas Masjid Ibrahimi. Militer 'Israel' mengumumkan bahwa kewenangan perencanaan masjid tersebut dialihkan kepada otoritas perencanaan militer 'Israel'. Palestina menilai langkah itu sebagai pelanggaran terhadap status hukum dan historis masjid serta bertentangan dengan hukum internasional.
Di Gaza, seorang bocah Palestina berusia tujuh tahun dilaporkan tewas tenggelam akibat banjir yang melanda kamp pengungsian. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut bocah bernama Ata Mai tersebut tewas setelah tendanya terendam air hujan deras. Video yang ditayangkan Al Jazeera memperlihatkan tim penyelamat berupaya mengevakuasi jasadnya dari genangan air berlumpur.
UNICEF menyatakan Ata Mai tinggal bersama adik-adiknya di sebuah kamp berisi sekitar 40 tenda, setelah kehilangan ibunya lebih awal dalam perang. Hampir seluruh penduduk Gaza, lebih dari dua juta orang, kehilangan tempat tinggal dan kini hidup di kamp-kamp darurat dengan perlindungan minim dari cuaca ekstrem. (zarahamala/arrahmah.id)
