Memuat...

Zohran Mamdani Disumpah dengan Al-Qur’an Berusia Ratusan Tahun, Catat Sejarah Baru di New York

Zarah Amala
Jumat, 2 Januari 2026 / 13 Rajab 1447 10:31
Zohran Mamdani Disumpah dengan Al-Qur’an Berusia Ratusan Tahun, Catat Sejarah Baru di New York
Sebagian besar pendahulu Mamdani disumpah dengan menggunakan Alkitab, meskipun sumpah untuk menegakkan konstitusi federal, negara bagian, dan kota tidak mengharuskan penggunaan teks keagamaan apa pun [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, mengucapkan sumpah jabatan tepat tengah malam dengan menggunakan Al-Qur’an berusia ratusan tahun, menandai untuk pertama kalinya seorang wali kota New York disumpah menggunakan kitab suci Islam, sekaligus menegaskan serangkaian tonggak sejarah baru bagi kota tersebut.

Politikus Partai Demokrat berusia 34 tahun itu resmi menjadi wali kota di sebuah stasiun kereta bawah tanah lama yang telah lama ditutup, tepat di bawah Balai Kota. Mamdani mencatat sejarah sebagai wali kota Muslim pertama, orang Asia Selatan pertama, dan orang kelahiran Afrika pertama yang menjabat posisi tersebut.

Tonggak-tonggak sejarah ini, termasuk penggunaan Al-Qur’an bersejarah, mencerminkan keberadaan komunitas Muslim New York yang telah lama hidup dan berkembang di kota terpadat di Amerika Serikat, menurut seorang akademisi yang membantu istri Mamdani, Rama Duwaji, memilih salah satu kitab yang digunakan dalam prosesi sumpah.

Sebagian besar pendahulu Mamdani disumpah dengan Alkitab, meskipun sumpah untuk menegakkan konstitusi federal, negara bagian, dan kota tidak mewajibkan penggunaan kitab agama apa pun.

Selama kampanye, Mamdani banyak menyoroti isu keterjangkauan biaya hidup. Namun, ia juga secara terbuka menegaskan identitasnya sebagai Muslim. Ia kerap hadir di masjid-masjid di lima wilayah kota New York, membangun basis dukungan yang mencakup banyak pemilih Muslim dan Asia Selatan yang baru pertama kali menggunakan hak pilih.

Tiga Al-Qur’an yang Digunakan Mamdani

Dalam upacara sumpah di stasiun bawah tanah, dua Al-Qur’an digunakan, Al-Qur’an milik kakeknya dan sebuah Al-Qur’an kecil yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Naskah tersebut merupakan bagian dari koleksi Schomburg Centre for Research in Black Culture, Perpustakaan Umum New York.

Salinan Al-Qur’an itu melambangkan keragaman dan jangkauan komunitas Muslim New York, ujar Hiba Abid, kurator Studi Timur Tengah dan Islam di perpustakaan tersebut.

“Ini Al-Qur’an kecil, tetapi mempertemukan unsur iman dan identitas dalam sejarah New York City,” kata Abid.

Untuk upacara sumpah berikutnya di Balai Kota pada hari pertama tahun baru, Mamdani akan menggunakan Al-Qur’an milik kakek dan neneknya. Tim kampanye belum memberikan rincian lebih lanjut tentang pusaka keluarga tersebut.

Perjalanan Panjang Sebuah Al-Qur’an

Naskah Al-Qur’an bersejarah itu diperoleh oleh Arturo Schomburg, sejarawan kulit hitam keturunan Puerto Riko yang mengumpulkan dokumentasi kontribusi global masyarakat keturunan Afrika. Meski tidak jelas bagaimana Schomburg mendapatkan Al-Qur’an tersebut, para peneliti meyakini hal itu mencerminkan ketertarikannya pada hubungan historis antara Islam dan budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan Afrika.

Berbeda dengan manuskrip keagamaan mewah yang biasa dikaitkan dengan kalangan bangsawan, Al-Qur’an yang digunakan Mamdani memiliki desain sederhana: sampul merah tua dengan medali bunga sederhana, serta tulisan tinta hitam dan merah. Gaya tulisannya lugas dan mudah dibaca, menandakan naskah itu dibuat untuk penggunaan sehari-hari, bukan sekadar seremoni.

“Nilai penting Al-Qur’an ini bukan pada kemewahannya, melainkan pada aksesibilitasnya,” ujar Abid.

Karena tidak bertanggal dan tidak bertanda tangan, para ahli memperkirakan masa pembuatannya berdasarkan jilid dan gaya tulis, yakni pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19 di era Ottoman, di wilayah yang kini mencakup Suriah, Lebanon, 'Israel', wilayah Palestina, dan Yordania.

Abid menilai perjalanan manuskrip itu ke New York mencerminkan latar belakang Mamdani yang berlapis: seorang warga New York keturunan Asia Selatan yang lahir di Uganda, sementara Duwaji adalah warga Amerika keturunan Suriah.

Identitas dan Kontroversi

Kenaikan pesat Mamdani, seorang Muslim dan demokrat sosialis, juga memicu gelombang retorika Islamofobia, seiring sorotan nasional terhadap pemilihan tersebut.

Dalam pidato emosional beberapa hari sebelum pemilu, Mamdani mengatakan bahwa permusuhan yang ia terima justru menguatkan tekadnya untuk tampil terbuka dengan identitas keimanannya.

“Saya tidak akan mengubah siapa diri saya, apa yang saya makan, atau iman yang dengan bangga saya anut,” katanya. “Saya tidak lagi akan mencari diri saya di bayang-bayang. Saya akan menemukan diri saya di cahaya.”

Keputusan menggunakan Al-Qur’an memicu kritik baru dari kalangan konservatif. Senator AS Tommy Tuberville dari Alabama menulis di media sosial, “Musuh ada di dalam gerbang,” menanggapi pemberitaan tentang pelantikan Mamdani. Council on American-Islamic Relations (CAIR) telah mengklasifikasikan Tuberville sebagai ekstremis anti-Muslim berdasarkan pernyataan-pernyataannya di masa lalu.

Reaksi semacam ini bukan hal baru. Pada 2006, Keith Ellison, Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS, juga menuai kecaman konservatif setelah memilih menggunakan Al-Qur’an dalam sumpah seremonialnya.

Usai pelantikan, Al-Qur’an tersebut akan dipamerkan untuk publik di Perpustakaan Umum New York. Abid berharap perhatian terhadap prosesi sumpah, baik dukungan maupun kritik, akan mendorong lebih banyak orang menjelajahi koleksi perpustakaan tentang kehidupan Islam di New York, mulai dari rekaman musik Armenia dan Arab awal abad ke-20 hingga kesaksian langsung tentang Islamofobia pasca-serangan 11 September.

“Naskah ini dulu dibuat untuk digunakan oleh pembaca biasa,” kata Abid. “Hari ini ia hidup di perpustakaan umum, tempat siapa pun bisa menemuinya.” (zarahamala/arrahmah.id)

Headlineal-qur'anzohran mamdanwali kota new yorkpelantikan