DAGESTAN (Arrahmah.com) - Baru-baru ini, Dagestan menjadi sumber utama berita tentang Jihad di Imarah Kaukasus. Meskipun propaganda dilakukan oleh penjajah Rusia dan antek mereka yang mengumumkan kemenangan dan melaporkan kematian di kalangan Mujahidin, aktivitas Mujahidin tidak hanya memudar di sana, tetapi pada kenyataannya, semakin meningkat.
Kemarin malam (9/5/2011), serangkaian bentrokan senjata dan tindakan sabotase dilakukan. Seperti di wilayah Kizlyar di mana pertempuran meletus di sekitar wilayah empat desa dan langsung di dalam beberapa desa.
Secara bersamaan, sekelompok Mujahidin menyerang penjajah dan antek mereka di berbagai daerah di seluruh Dagestan, di Shalmilaka, di Izberbash, di Sergokalinzk, Kayakentsk, Kaytagsk dan di Khasavyurt.
Penjajah melaporkan bahwa ada korban di antara Mujahidin dan mengakui beberapa dari tentara mereka tewas namun hanya melaporkan sedikit mengenai pertempuran.
Memang benar bahwa Mujahidin mengalami kerugian secara berkelanjutan. Namun jumlah pasti mungkin tidak sebesar yang disebutkan oleh penjajah Rusia. Perlu diketahui bahwa jumlah Mukminin yang keluar dari rumah mereka untuk berjihad jauh lebih besar dari angka yang syahid, Insha Allah.
Fenomena ini sangat mengkhawatirkan bagi para penjajah dan antek mereka. Salah seorang yang disebut "pakar dalam politik Islam" dan pada saat yang sama merupakan pemimpin dari "kelompok pemantau perlindungan pemuda" di Dagestan, Ruslan Gereyev mencatan bahwa fenomena ini dijelaskan oleh fakta pemuda Dagestan secara aktif kembali ke Islam murni.
"Bagi pemuda Dagestan, ideologi Salafi, yang menjadi dasar sebuah gerakan 'fundamentalis' Islam, merupakan pilar ideologi negara Islam berdasarkan Syariah Islam. Pemuda saat ini, terutama kalangan mahasiswa, sebagian besar mempertimbangkan salafisme sebagai ideologi pemersatu yang akan menyatukan kaum Muslimin dalam menghadapi kekafiran," ujar Gereyev.
Gereyev menunjukkan bahwa Dagestan menempati peran utama dalam penyebaran ide-ide Islam murni di seluruh lanskap pasca-soviet.
Dalam perjuangan melawan ideologi Salafisme, antek setempat menyebarkan paham sufi yang tampaknya tidak dapat memberikan substansi apapun kepada penentang mereka terhadap bangkitnya kembali Islam.
Karena ajaran sesat sufi ditanamkan oleh murtadin Kadyrov dan penjajah Rusia di Chechnya untuk membantu menabur teror dan kekerasan massa, situasi yang agak berbeda di Daegstan, meskipun teror dan kekerasan tidak kurang dari di Chechnya.
Berdasarkan pemantauan dan analisis terhadap situasi di Dagestan, Gereyev menyimpulkan bahwa penciptaan jamaah militer di Dagestan sudah menjadi proses tak dapat diubah. (haninmazaya/arrahmah.com)
