Memuat...

1.000 Musisi Dunia Blokir 'Israel': "No Music for Genocide"

Zarah Amala
Jumat, 14 November 2025 / 24 Jumadilawal 1447 11:30
1.000 Musisi Dunia Blokir 'Israel': "No Music for Genocide"
Musisi global putuskan hubungan dengan 'Israel' (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Lebih dari 1.000 musisi telah bergabung dengan inisiatif internasional No Music for Genocide, bersumpah untuk menarik musik mereka dari 'Israel' sebagai bentuk dukungan terhadap seruan rakyat Palestina untuk “mengisolasi dan mendelegitimasi” 'Israel'.

Sejak September, gerakan boikot bertajuk No Music for Genocide ini memiliki tuntutan sederhana: para musisi meminta label dan distributor mereka untuk mengunci akses geografis (geo-block) sehingga musik mereka tidak dapat diputar di 'Israel'.

Di antara musisi yang ikut serta adalah Lorde, Björk, dan Massive Attack.

Menurut situs gerakan tersebut, langkah ini adalah “salah satu cara untuk menghormati tuntutan rakyat Palestina agar Israel diisolasi dan kehilangan legitimasi.”

Meskipun gencatan senjata rapuh telah diberlakukan sejak 10 Oktober, para penyelenggara No Music for Genocide mengatakan mereka tetap melanjutkan boikot di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh 'Israel' di Gaza, menurut laporan National Public Radio (NPR).

“Boikot adalah salah satu upaya paling efektif dan bertahan lama untuk melawan sistem monster berkepala tiga yang termiliterisasi dan sangat brutal,” kata penyair blues Aja Monet, salah satu peserta kampanye, kepada NPR.

Koalisi para musisi ini bertepatan dengan langkah serupa dari sejumlah bintang Hollywood yang berikrar memboikot industri film 'Israel' yang didanai negara.

Pada September lalu, sebuah komisaris independen PBB menyimpulkan bahwa 'Israel' melakukan genosida di Gaza, dan bahwa negara-negara yang membantu mempersenjatai pemerintahan pendudukan 'Israel', termasuk Amerika Serikat, turut berserikat dalam kejahatan tersebut.

'Israel' telah menjalankan perang genosida selama dua tahun di Gaza, menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina dan menghancurkan lebih dari 81% seluruh bangunan. Hampir seluruh penduduk Gaza juga telah menjadi pengungsi internal.

Organisasi HAM seperti Amnesty International, B’Tselem, dan Human Rights Watch juga menuduh 'Israel' melakukan genosida di Gaza.

“Sebagai warga AS, saya punya keterhubungan dengan genosida ini karena dilakukan menggunakan uang pajak saya. Sebagai musisi, saya sensitif, dan itu bagian penting dalam membuat karya,” kata komponis sekaligus penyanyi Julia Holter, peserta lainnya dalam kampanye.

“Setiap hari selama lebih dari setahun setengah ini, kita melihat horor yang tak terbayangkan di Gaza. Setiap bayi kekurangan gizi yang saya lihat dengan luka-luka mengerikan, setiap ayah dan ibu yang meratapi anak mereka yang ditembak sniper membuat saya teringat anak saya, orang-orang yang saya cintai. Saya merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu, sekecil apa pun.”

Situs No Music for Genocide mencatat bahwa tiga label musik besar AS, Sony Music, Warner Music Group, dan Universal Music Group, menghentikan seluruh operasinya di Rusia segera setelah invasi ke Ukraina dan berjanji mendukung upaya kemanusiaan. Menurut gerakan ini, hal yang sama seharusnya dilakukan untuk rakyat Palestina.

Bagi banyak musisi yang berpartisipasi, No Music for Genocide bukanlah solusi akhir. Namun mereka menegaskan bahwa langkah ini merupakan salah satu bentuk aksi non-kekerasan yang penting. Aja Monet menambahkan bahwa boikot hanyalah satu bagian dari gerakan perlawanan kolektif yang jauh lebih besar. (zarahamala/arrahmah.id)