GAZA (Arrahmah.id) - Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis pernyataan mengejutkan pada Kamis (5/2/2026), mengungkapkan bahwa 'Israel' telah melanggar kesepakatan gencatan senjata sebanyak 1.520 kali sejak mulai diberlakukan pada 10 Oktober 2025. Selama 115 hari periode "tenang" tersebut, serangan 'Israel' justru menewaskan 556 warga Palestina dan melukai sedikitnya 1.500 lainnya.
Laporan resmi tersebut merinci bahwa militer 'Israel' telah melakukan 522 insiden penembakan, 704 pengeboman, 73 invasi darat ke pemukiman warga, serta menghancurkan 221 rumah dan bangunan sipil. Otoritas Gaza menegaskan bahwa 99% dari mereka yang tewas adalah warga sipil, termasuk 288 anak-anak, perempuan, dan lansia.
Selain serangan fisik, 'Israel' dilaporkan menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai alat tekanan politik. Dari 69.000 truk bantuan, barang komersial, dan bahan bakar yang seharusnya masuk sesuai perjanjian, hanya 29.603 truk yang diizinkan melintas.
Data menunjukkan kegagalan kritis pada sektor energi, hanya 808 truk yang masuk dari target 5.750 truk (Hanya 14% kepatuhan), hanya 257 truk per hari, jauh di bawah komitmen 600 truk per hari dan hanya terpenuhi 39% dari kebutuhan pasar.
Pemerintah Gaza juga menuduh 'Israel' mengabaikan komitmen penarikan pasukan ke garis yang disepakati. Sebaliknya, pasukan 'Israel' dilaporkan memperluas kontrol mereka melampaui "Garis Kuning" (zona penyangga) dan terus menculik warga sipil di dalam lingkungan perumahan. Sebanyak 50 warga Palestina diculik selama periode gencatan senjata ini.
Selain itu, 'Israel' secara sistematis memblokir masuknya alat berat yang dibutuhkan untuk menyingkirkan puing-puing dan mengevakuasi jenazah, serta membatasi pasokan medis dan bahan bangunan untuk tempat tinggal darurat.
Kantor Media Pemerintah menyatakan bahwa 'Israel' bertanggung jawab penuh atas krisis kelaparan dan penderitaan kemanusiaan yang sengaja diperparah. Mereka mendesak Presiden AS Donald Trump, para mediator, dan PBB untuk segera menegakkan gencatan senjata tanpa pengecualian.
"Bencana kemanusiaan di Gaza akan semakin dalam kecuali semua kewajiban gencatan senjata diimplementasikan secara penuh dan tanpa penundaan," tegas pernyataan tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
