GAZA (Arrahmah.id) - Sistem layanan kesehatan di Gaza tengah runtuh di bawah tekanan genosida yang dilakukan oleh 'Israel'. Anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Menurut laporan Health Cluster, anak-anak kini mencakup 23 persen kasus amputasi, 26 persen cedera tulang belakang, 33 persen cedera otak traumatis, dan 70 persen kasus luka bakar yang membutuhkan operasi. Namun, tak ada satu pun layanan rehabilitasi khusus anak yang tersedia di seluruh Gaza.
Dalam pembaruan terbarunya, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyebutkan bahwa setidaknya 30.000 kasus trauma di Gaza membutuhkan rehabilitasi jangka panjang. Namun, hanya tersisa 85 tempat tidur rehabilitasi yang masih berfungsi. Tim medis kewalahan, dan banyak pasien menderita tanpa akses ke layanan paling dasar. Saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengunjungi Rumah Sakit Rehabilitasi Hamad baru-baru ini, mereka mendapati anak-anak yang menanti layanan pendengaran dalam kondisi stres psikologis yang terlihat jelas. Belum ada satu pun program intervensi dini bagi penyandang disabilitas non-traumatis.
Jumlah pasien amputasi yang membutuhkan kaki atau tangan palsu melonjak hingga 6.000 orang, 4.000 di antaranya adalah kasus baru sejak genosida dimulai, dan 2.000 lainnya kasus lama. Setidaknya 292 pasien, termasuk 57 anak-anak, masih menunggu operasi revisi tunggul. Persediaan material rehabilitasi hampir habis, sebagian fasilitas kesehatan bahkan sudah kehabisan stok. Sementara itu, lebih dari 3.300 kursi roda dan alat bantu lainnya tertahan di perbatasan yang dikendalikan 'Israel'. Di tengah krisis yang memburuk, semakin banyak pasien yang mengalami komplikasi sekunder. Di Al Wafaa, satu-satunya rumah sakit spesialis rehabilitasi di Gaza, 30 persen tempat tidur kini ditempati pasien dengan luka baring parah akibat tak bisa bergerak dan kurangnya perawatan.
Para mitra Health Cluster memperingatkan bahwa para penyandang disabilitas, penderita penyakit kronis, dan lansia berada dalam risiko tinggi mengalami penurunan kondisi lebih lanjut. Tanpa pengobatan, banyak dari mereka akan mengalami disabilitas permanen, dan biaya perawatannya akan melonjak tajam.
OCHA juga mencatat darurat kesehatan ibu yang semakin mengkhawatirkan. Dana Kependudukan PBB (UNFPA) melaporkan bahwa para perempuan di Gaza kini mengalami kelaparan dan harus melahirkan tanpa air bersih, sanitasi, atau perawatan medis. Separuh dari stok obat-obatan penting untuk kesehatan ibu sudah habis. Selama lebih dari tiga bulan terakhir, tak satu pun pasokan UNFPA, termasuk obat-obatan penyelamat nyawa, berhasil masuk ke Gaza. Pasukan 'Israel' telah memblokir 190 truk yang membawa barang-barang kebutuhan kesehatan ibu dari melintasi perbatasan.
Krisis bahan bakar semakin memperburuk situasi. Tanpa bahan bakar, 80 persen unit perawatan intensif di Gaza akan berhenti beroperasi. Bayi dalam inkubator dan perempuan yang melahirkan menghadapi risiko kematian karena alat-alat penyelamat jiwa mati total. UNFPA melaporkan bahwa satu dari tiga kehamilan di Gaza tergolong berisiko tinggi, dan satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah. Bayi-bayi ini seharusnya mendapatkan perawatan spesialis, tapi layanan seperti itu kini hampir tidak tersedia. Saat ini, hanya lima rumah sakit yang masih mampu memberikan layanan bersalin di seluruh Gaza.
Kondisi pangan pun tak kalah buruk. Sejak masuknya bantuan terbatas pada 19 Mei, sekitar 9.000 ton tepung terigu berhasil masuk ke Gaza, setara dengan 360.000 kantong seberat 25 kilogram. Namun, sebagian besar bantuan itu tidak pernah mencapai gudang penyimpanan. Warga yang putus asa mengambil langsung isi truk sebelum sempat didistribusikan, bahkan dalam beberapa kasus, kelompok bersenjata yang terafiliasi dengan Israel merebutnya. Sebanyak 50 truk berisi bahan makanan lainnya juga mengalami nasib serupa: dibongkar oleh kerumunan sebelum sempat disimpan dengan layak.
Dapur-dapur umum di Gaza kini kewalahan. Di akhir April, 180 dapur umum sempat menyalurkan lebih dari satu juta porsi makanan setiap hari. Namun, pada pertengahan Juni, hanya 42 dapur yang masih beroperasi dan hanya mampu menyajikan sekitar 185.000 porsi, turun drastis hingga 83 persen. Otoritas 'Israel' terus menghalangi organisasi kemanusiaan untuk membagikan paket makanan, membuat puluhan ribu keluarga tak punya akses ke nutrisi dasar.
Sektor Keamanan Pangan memperingatkan bahwa jika pengiriman bantuan berskala besar dan rutin tidak segera diizinkan lewat berbagai jalur perbatasan, kelaparan akan semakin meluas. Harga gandum pun melonjak, dan kekurangan makanan memperburuk bencana kemanusiaan secara keseluruhan. (zarahamala/arrahmah.id)
