ISTANBUL (Arrahmah.id) - Setelah enam hari negosiasi antara delegasi Imarah Islam Afghanistan dan delegasi Pakistan, Kementerian Luar Negeri Turki tadi malam mengumumkan bahwa putaran kedua perundingan antara kedua negara telah berakhir dan kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan gencatan senjata.
Menurut pernyataan tersebut, pertemuan tingkat tinggi lanjutan dijadwalkan pada 6 November di Istanbul untuk membahas detail implementasi perjanjian ini, lansir Tolo News (31/10/2025).
Pernyataan bersama dari Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan: “Afghanistan, Pakistan, Turki, dan Qatar mengadakan pertemuan di Istanbul pada 25-30 Oktober 2025 dengan tujuan untuk memperkuat gencatan senjata yang disepakati oleh Afghanistan dan Pakistan di Doha pada 18-19 Oktober 2025 dengan mediasi Turki dan Qatar.”
Qatar, salah satu mediator perundingan antara Kabul dan Islamabad, juga mengumumkan dalam siaran pers terpisah bahwa para pihak sepakat untuk membentuk mekanisme pemantauan dan verifikasi; sebuah mekanisme yang menjamin pemeliharaan perdamaian dan jika terjadi pelanggaran gencatan senjata, sanksi akan dijatuhkan kepada negara yang melanggar.
Pernyataan Kementerian Qatar berbunyi: "Para pihak sepakat bahwa mekanisme pemantauan dan verifikasi harus dibentuk untuk menjamin pemeliharaan perdamaian dan menjatuhkan sanksi kepada pihak yang melanggar."
Wahid Faqiri, seorang analis hubungan internasional, mengomentari hal ini: "Saya yakin gencatan senjata ini bersifat sementara dan hanya akan berlangsung beberapa bulan, dan Pakistan akan mencari alasan lain untuk melanjutkan perang."
Meskipun kedua negara mediator telah menekankan pemeliharaan perdamaian dan kelanjutan gencatan senjata antara Kabul dan Islamabad, dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara Imarah Islam Afghanistan tidak disebutkan adanya kelanjutan gencatan senjata.
Zabihullah Mujahid, juru bicara Imarah Islam Afghanistan, menyatakan berakhirnya putaran kedua negosiasi dan menekankan tiga poin kunci dalam perundingan ini:
a) Imarah Islam Afghanistan selalu percaya pada diplomasi dan kesepahaman. b) Karena Imarah Islam Afghanistan menginginkan hubungan baik dengan negara-negara tetangganya, ia juga menginginkan hubungan positif dengan Pakistan.
c) Kedua belah pihak sepakat untuk bertemu kembali dan akan membahas isu-isu yang masih ada.
Hamdullah Fitrat, wakil juru bicara Imarah Islam Afghanistan, mengatakan: "Perundingan Istanbul, yang prosesnya rumit, berakhir dengan kesepakatan bahwa kedua belah pihak akan bertemu kembali dan membahas isu-isu yang tersisa."
Pihak Pakistan belum memberikan komentar resmi mengenai berakhirnya negosiasi. Namun, kemarin Menteri Pertahanan Pakistan mengatakan bahwa perjanjian dengan Afghanistan harus dituangkan secara tertulis.
Khawaja Muhammad Asif, Menteri Pertahanan Pakistan, menyatakan: "Perjanjian tanpa tulisan tidak dapat kami terima. Setiap komitmen yang dibuat oleh Afghanistan harus tertulis dan disaksikan oleh kedua negara tuan rumah."
Negosiasi antara kedua negara berlangsung selama enam hari dan selama periode tersebut menemui beberapa jalan buntu; tetapi berkat upaya kedua negara mediator, perundingan akhirnya dapat diselesaikan. (haninmazaya/arrahmah.id)
