KHYBER PAKHTUNKHWA (Arrahmah.id) - Dalam pernyataan tegasnya, Suhail Afridi, Kepala Menteri Khyber, menuduh pemerintah Pakistan sengaja memperparah ketidakamanan yang diciptakan sendiri di wilayah tersebut.
Afridi mengatakan bahwa penculikan anggota Gerakan Pashtun Tahafuz (PTM) yang hadir dalam "Jirga Perdamaian Khyber Pakhtunkhwa" oleh pemerintah merupakan upaya untuk mengganggu upaya perdamaian dan dialog baru dengan Afghanistan, lansir Tolo News (17/11/2025).
Ia berkata: “Pola pikir yang telah mendominasi Pakistan selama 71 tahun dan tidak pernah menginginkan perdamaian di Khyber Pakhtunkhwa telah membuktikan, melalui penculikan tamu-tamu kami, bahwa terorisme ini sepenuhnya rekayasa. Mereka memanipulasi perdamaian demi kepentingan mereka sendiri, bukan demi keinginan rakyat.”
Afridi lebih lanjut mengkritik operasi militer Pakistan di wilayah Pashtun, dengan mengatakan bahwa tentara, dengan dalih memerangi terorisme, menargetkan warga sipil tak berdosa dan melakukan kejahatan perang.
Ia menambahkan bahwa rakyat sudah muak dengan keputusan rahasia pemerintah pusat dan kebijakan yang dipaksakan di wilayah kesukuan, dan berjanji untuk melawan pendekatan yang dipaksakan ini.
Kepala Menteri menyatakan: “Rakyat Khyber Pakhtunkhwa muak dengan terorisme yang diciptakan sendiri ini dan keputusan yang dibuat secara tertutup, keputusan yang telah dipaksakan kepada kami selama bertahun-tahun. Hari ini saya katakan dengan tegas: sebagaimana pemimpin saya, Imran Khan, tidak pernah tunduk kepada Anda, saya juga tidak akan tunduk. Siapa pun yang mengganggu perdamaian kita adalah musuh bersama. Siapa pun yang tidak menghormati nilai-nilai agama adalah musuh bersama kita. Dan mereka harus tahu bahwa kita tidak akan pernah menyerah.”
Kritik domestik yang meningkat ini muncul di saat Imarah Islam Afghanistan juga menuduh sebuah faksi tertentu di dalam militer Pakistan mencoba memprovokasi ketegangan antara Kabul dan Islamabad.
Analis politik Wahid Faqiri berkomentar: “Punjab tidak ingin menemukan solusi sejati untuk tantangan-tantangannya. Sebaliknya, mereka mencoba memaksakan solusi buatan dari luar, dari Punjab. Itulah sebabnya situasi di Pakistan terus memburuk.”
Kritik dari Kepala Menteri ini menyusul tindakan militer Pakistan baru-baru ini, yang sebelumnya melanggar wilayah udara Afghanistan dan menargetkan pemain kriket serta wilayah sipil, termasuk sekolah, di Kabul dan Paktika. (haninmazaya/arrahmah.id)
