GAZA (Arrahmah.id) - Raksasa teknologi Amazon diketahui telah menjual layanan komputasi awan (cloud computing) kepada dua produsen senjata utama 'Israel', yaitu Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries (IAI), perusahaan yang senjatanya digunakan dalam genosida 'Israel' di Gaza, menurut dokumen internal perusahaan yang diperoleh The Intercept.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa Amazon Web Services (AWS) tetap menjalankan kerja sama bisnis dengan kedua perusahaan itu selama 2024 dan 2025, di tengah serangan brutal 'Israel' yang menewaskan puluhan ribu warga Palestina.
Sejak 2021, Amazon menjadi bagian dari Proyek Nimbus, sebuah kesepakatan senilai 1,2 miliar dolar AS bersama Google untuk menyediakan infrastruktur komputasi awan bagi pemerintah 'Israel', termasuk militer dan lembaga intelijennya.
Dokumen keuangan internal yang dikaji The Intercept menunjukkan bahwa Rafael dan IAI telah menggunakan teknologi Amazon, termasuk alat kecerdasan buatan (AI) dan model bahasa besar (LLM) seperti Claude yang dikembangkan oleh startup Anthropic.
Selain itu, Amazon juga menyediakan layanan kepada program nuklir 'Israel' serta kantor-kantor administratif di Tepi Barat yang diduduki, wilayah di mana ekspansi permukiman dan kontrol militer 'Israel' dinyatakan melanggar hukum internasional.
Rafael dan IAI merupakan pemasok utama bom, rudal, dan drone yang digunakan dalam serangan udara 'Israel' di Gaza. Teknologi mereka termasuk SPICE guidance kits, sistem panduan yang mengubah bom konvensional menjadi senjata presisi berpemandu GPS.
Pada September 2024, 'Israel' mengebom kamp pengungsi di Gaza selatan, yang sebelumnya ditetapkan sebagai “zona aman.” Fragmen bom seberat 2.000 pon dengan sistem panduan SPICE ditemukan di lokasi, dan serangan itu menewaskan sedikitnya 19 warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. PBB mengecam insiden tersebut sebagai “tindakan yang tak dapat diterima secara moral.”
Serangan serupa pada Desember 2024 menewaskan 12 warga Palestina di Gaza tengah.
CEO Rafael, Yoav Turgeman, bahkan membanggakan pencapaian “pendapatan tertinggi” perusahaan pada 2024, yang ia sebut sebagai “perang multi-front terpanjang dan paling kompleks dalam sejarah 'Israel'.”
Sementara itu, IAI, pengembang sistem pertahanan udara Iron Dome, mempromosikan drone Heron karena perannya dalam operasi di Gaza, drone yang memberikan intelijen waktu nyata dan dukungan penargetan presisi, namun turut menyebabkan tingginya korban sipil.
Amazon secara publik mengklaim berkomitmen terhadap standar hak asasi manusia internasional.
Dalam situs resminya, perusahaan menyatakan bahwa mereka melakukan penilaian risiko HAM dan dampak sosial di seluruh lini usaha.
Namun, Amazon menolak menjawab pertanyaan The Intercept tentang apakah penilaian semacam itu dilakukan sebelum menjual layanan kepada perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam genosida di Gaza.
Baik Rafael, IAI, maupun Kementerian Pertahanan 'Israel' menolak memberikan komentar.
Diskon Khusus untuk Militer 'Israel'
Meskipun angka pastinya tidak diungkap, dokumen menunjukkan bahwa Amazon memberikan potongan harga hingga 35% kepada Kementerian Pertahanan 'Israel', pelanggan utama dalam proyek Nimbus.
Belum diketahui apakah Rafael dan IAI juga menerima manfaat serupa.
Menurut The Intercept, Rafael menggunakan platform Bedrock milik Amazon untuk mengakses alat AI generatif, termasuk model Titan G1 dan Claude dari Anthropic, penggunaan yang berpotensi melanggar kebijakan Anthropic sendiri, yang melarang pengembangan senjata dengan AI.
Amazon juga menyediakan perangkat lunak pengenalan wajah “Recognition” kepada Kementerian Pertahanan 'Israel', digunakan untuk proyek intelijen sumber terbuka di bawah Komando Pusat militer 'Israel'.
Sistem ini dapat mendeteksi wajah dan membaca ekspresi emosi seperti “ketakutan.”
Dokumen tambahan menunjukkan bahwa Unit 9900, satuan intelijen geospasial 'Israel' yang terlibat dalam perencanaan serangan ke Gaza, juga menggunakan layanan AWS. (zarahamala/arrahmah.id)
