Memuat...

Anak-anak Gaza Menyambut Bulan Suci Ramadan dari Balik Tenda

Zarah Amala
Jumat, 13 Februari 2026 / 26 Syakban 1447 11:15
Anak-anak Gaza Menyambut Bulan Suci Ramadan dari Balik Tenda
Anak-anak Gaza sambut bulan suci di tengah puing perang (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Menjelang bulan suci Ramadan, suasana di kamp-kamp pengungsian Palestina di Jalur Gaza tengah tampak kontras dengan tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada lentera (fanous) yang tergantung maupun hiasan lampu yang menerangi rumah, yang ada hanyalah deretan tenda darurat di tengah keterbatasan yang ekstrem.

Dalam pantauan Al Jazeera Mubasher di salah satu kamp pengungsian, anak-anak Gaza tampak berusaha menciptakan kegembiraan mereka sendiri. Di tengah tawa malu-malu dan kata-kata yang melampaui usia mereka, anak-anak ini bercerita tentang cara mereka menyambut Ramadan di tengah kecamuk perang, pengungsian, dan rasa kehilangan.

Semangat yang Tak Terbom

Malak (13), salah satu anak di pengungsian, menyatakan bahwa Ramadan akan tetap terasa indah meski dalam kondisi sulit. Ia menceritakan bagaimana sesama penghuni tenda saling bahu-membahu menciptakan suasana khas bulan suci, meski detail-detail tradisi yang biasa mereka lakukan di rumah kini telah hilang.

"Ramadan di tenda tidak sama dengan di rumah, di mana keluarga dan tetangga biasa berkumpul untuk beribadah dan berbuka bersama," ujar Malak.

Senada dengan Malak, Sabah (13) menuturkan bahwa tahun ini sama sekali tidak ada persiapan khusus. Ketiadaan listrik, kemiskinan, serta sempitnya ruang di dalam tenda membuat hiasan Ramadan menjadi kemewahan yang mustahil. "Dulu kami bersiap berhari-hari untuk Ramadan, sekarang memikirkannya saja sudah terasa berat," tuturnya.

Duka di Balik Kegembiraan

Bagi Shaima (12), kedatangan Ramadan membawa luka yang mendalam. Shaima kini tinggal bersama saudara-saudaranya di tenda sempit setelah ayahnya gugur dalam perang. "Kami senang Ramadan datang, tapi ia datang membawa rasa sakit," ungkapnya. Ia mengaku merasakan kekosongan besar saat melihat anak-anak lain masih didampingi ayah mereka.

Sementara itu, Lamis yang baru berusia lima tahun, tampak bermain dengan teman-temannya tanpa membawa lentera. Saat ditanya, ia menjawab dengan polos bahwa lenteranya telah "hilang", sebuah kata sederhana yang merangkum besarnya kehilangan yang dialami anak-anak Gaza: hilangnya mainan, hilangnya rumah, hingga hilangnya orang tua.

Meskipun menyambut Ramadan dengan senyum yang tak utuh dan kegembiraan yang bercampur air mata, anak-anak Gaza tetap menunjukkan keteguhan. Di tengah tenda dan pengungsian, mereka tetap bersikeras untuk bermain dan menantikan Ramadan, berharap bulan suci ini membawa kedamaian yang lebih baik daripada hari-hari perang. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlinePalestinaanak-anak Gazaramadan