Memuat...

Anak Gaza Mewarisi Trauma, 93% Tunjukkan Perilaku Agresif Akibat Perang

Zarah Amala
Jumat, 14 November 2025 / 24 Jumadilawal 1447 11:16
Anak Gaza Mewarisi Trauma, 93% Tunjukkan Perilaku Agresif Akibat Perang
Inisiatif pendidikan berupaya mengurangi dampak trauma perang terhadap anak-anak Gaza (Al Jazeera - Arsip)

GAZA (Arrahmah.id) - Lebih dari 9 dari 10 anak di Gaza menunjukkan tanda-tanda perilaku agresif yang berkaitan langsung dengan perang, menurut laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) pada Kamis (13/11/2025).

Penilaian yang dilakukan para mitra perlindungan anak di Gaza, dan dipublikasikan oleh OCHA, menyebutkan bahwa rasa stabilitas dan keamanan anak-anak terkikis seiring runtuhnya layanan dasar sehari-hari.

Temuan itu menunjukkan bahwa 93% anak memperlihatkan perilaku agresif, dan 90% di antaranya bersikap kasar terhadap anak-anak yang lebih kecil.

Data yang sama juga mengungkapkan bahwa kesedihan dan menarik diri dari lingkungan muncul dengan tingkat yang hampir serupa, mencakup 86% anak. Selain itu, 79% mengalami gangguan tidur, sementara penolakan untuk belajar tercatat pada 69% anak.

Para pekerja kemanusiaan menegaskan bahwa anak-anak Gaza membutuhkan dukungan jangka panjang dan berkelanjutan untuk pulih.

OCHA melaporkan bahwa kekerasan mematikan dan kondisi tanpa rasa aman masih berlangsung, menyusul serangan militer 'Israel' yang terus terjadi di dekat atau di timur area yang dikenal sebagai “garis kuning”.

Menurut OCHA, kawasan inilah yang masih dipenuhi kehadiran militer 'Israel', dan mencakup lebih dari 50% wilayah Gaza.

Badan bantuan PBB itu menambahkan bahwa akses menuju laut tetap dilarang, dan laporan menunjukkan bahwa pasukan Israel masih menangkap nelayan Palestina di perairan Gaza.

Di wilayah yang berada di luar garis kuning, OCHA menyebutkan bahwa ledakan harian terhadap bangunan tempat tinggal masih terus dilaporkan, sementara akses menuju aset-aset kemanusiaan, infrastruktur publik, serta lahan pertanian tetap dibatasi atau bahkan sepenuhnya dilarang.

Satu Juta Pengungsi

OCHA mencatat hampir satu juta orang kini tinggal di 862 lokasi pengungsian, dari total 2,1 juta penduduk Gaza. Lebih dari setengah lokasi itu berada di Khan Yunis di bagian selatan, 264 lokasi berada di Deir al-Balah, 180 di Gaza dan Gaza Utara, serta delapan lokasi di Rafah.

Banyak kamp yang sangat padat, meningkatkan risiko terhadap perempuan dan anak-anak, terutama mereka yang memiliki disabilitas, yang menjadi lebih rentan terhadap kekerasan, penelantaran, serta akses berbahaya ke fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan.

Mitra PBB yang memberikan layanan kepada anak-anak melaporkan meningkatnya kecemasan, perubahan perilaku, serta kekhawatiran mendalam akibat minimnya ruang aman. OCHA menyebutkan bahwa para mitra kemanusiaan telah memberikan layanan perlindungan anak kepada lebih dari 132.000 orang di seluruh Gaza sepanjang empat minggu setelah gencatan senjata disepakati.

Layanan tersebut mencakup hampir 1.600 anak penyandang disabilitas dan 45.000 pengasuh. Bantuan yang diberikan meliputi konseling psikologis individual, sesi kelompok, kegiatan manajemen stres, dukungan psikososial rekreasional, serta rujukan untuk bantuan lanjutan.

OCHA menegaskan bahwa target mereka adalah menjangkau lebih dari 100.000 anak per bulan untuk memenuhi kebutuhan hampir satu juta anak di Gaza.

Perkembangan ini muncul bersamaan dengan pengumuman pihak 'Israel' bahwa mereka kembali membuka penyeberangan Zikim setelah ditutup selama delapan minggu. Menurut OCHA, penyeberangan yang menghubungkan 'Israel' dengan Gaza Utara itu akan dibuka kembali untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. (zarahamala/arrahmah.id)