WASHINGTON (Arrahmah.id) - Amerika Serikat dilaporkan mendesak pemerintah Lebanon untuk menyerahkan kembali sebuah bom GBU-39 buatan Boeing yang gagal meledak dalam serangan 'Israel' terhadap seorang komandan senior Hizbullah di Beirut pekan lalu.
The Jerusalem Post, mengutip laporan media Lebanon, menyebut pejabat AS khawatir perangkat tersebut dapat “jatuh ke tangan Rusia atau Cina.” Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari otoritas Lebanon.
Al Jazeera Arabic melaporkan bahwa harian 'Israel' Maariv mengidentifikasi bom tersebut sebagai GBU-39B smart glide bomb, digunakan dalam serangan udara yang menargetkan Haytham Ali Tabatabai, komandan senior Hizbullah, di kawasan selatan Beirut.
Bom itu gagal meledak dan ditemukan dalam kondisi relatif utuh di lokasi kejadian. Hal ini memicu kekhawatiran Washington bahwa pihak lain, khususnya Rusia dan Cina, dapat mengaksesnya dan mempelajari teknologinya.
Menurut sumber-sumber yang dikutip Maariv, bom tersebut memuat hulu ledak berdaya sangat besar untuk bobotnya, serta sistem pemandu dan teknologi yang disebut belum dimiliki Moskow maupun Beijing. Karena itu, pemulihannya diprioritaskan oleh AS.
Sejak Oktober lalu, tentara 'Israel' meningkatkan serangan terhadap Lebanon, melanggar perjanjian gencatan senjata November 2014. Media 'Israel' juga melaporkan adanya rencana operasi militer baru.
Gencatan senjata 2014 mengakhiri ofensif 'Israel' yang dimulai Oktober 2023 dan berubah menjadi perang besar pada September 2024, menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000.
Profil GBU-39: Bom Presisi yang “Aman”
GBU-39 adalah bom presisi udara-ke-darat buatan AS yang dikembangkan Boeing pada akhir 1990-an dan mulai digunakan awal 2000-an.
Bom ini dijuluki “safe bomb” karena dirancang menghancurkan target dari dalam tanpa menyebabkan kerusakan luas di sekitarnya. Bom kecil namun sangat efektif ini memungkinkan pesawat membawa lebih banyak munisi pintar dalam satu misi.
GBU-39 juga berfungsi sebagai bunker-buster, mampu menembus gudang, bunker beton, atau fasilitas bernilai tinggi, termasuk di area padat penduduk.
Berbentuk seperti rudal kecil, bom ini memiliki berat sekitar 113 kilogram, panjang 1,8 meter, dan sangat akurat dalam menekan dampak sampingan.
Menurut The Jerusalem Post, Boeing telah memproduksi sekitar 20.000 unit, dijual ke negara-negara seperti Italia, Belanda, Australia, Arab Saudi, dan versi khusus darat ke Ukraina. Angkatan Udara 'Israel' menyebutnya sebagai “Sharp Hail.” (zarahamala/arrahmah.id)
