BAMAKO (Arrahmah.id) -- Amerika Serikat (AS) memperingatkan warga Amerika di Mali pada hari Selasa (28/10/2025) untuk segera meninggalkan negara itu menggunakan penerbangan komersial. Peringatan itu dilakukan karena pemerintah Mali sedang dalam serangan besar kelompok militan yang terkait dengan al Qaeda.
Militan Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM) mengumumkan, seperti dilansir Reuters (29/10), bahwa mereka memblokade impor bahan bakar ke negara Afrika Barat itu.
Dari sejak September, JNIM telah menyerang konvoi truk tangki bahan bakar yang berusaha memasuki negara itu atau mencapai ibu kota, Bamako.
Pemerintah pada hari Ahad (26/10) memerintahkan penangguhan sekolah dan universitas di seluruh Mali selama dua pekan karena kekurangan bahan bakar.
"Tantangan infrastruktur yang terus berlanjut di Mali, termasuk gangguan pasokan bensin dan solar yang berkelanjutan, penutupan lembaga-lembaga publik seperti sekolah dan universitas di seluruh negeri, dan konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara pemerintah Mali dan elemen teroris di sekitar Bamako, meningkatkan ketidakpastian situasi keamanan di Bamako," demikian pernyataan Kedutaan Besar AS di Mali.
Para analis menggambarkan blokade bahan bakar sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap pemerintah Mali yang dipimpin militer oleh kelompok-kelompok militan, yang ingin memutus pasokan oksigen ekonomi negara tersebut.
Bandara di Bamako tetap buka, kata kedutaan, dan menyarankan warga AS untuk berangkat menggunakan penerbangan komersial daripada melakukan perjalanan darat ke negara-negara tetangga karena risiko "serangan teroris di sepanjang jalan raya nasional."
Warga negara AS yang memilih untuk tetap tinggal di Mali harus mempersiapkan rencana darurat, termasuk untuk berlindung di tempat untuk jangka waktu yang lama, demikian pernyataan tersebut.
Kedutaan tidak dapat memberikan dukungan kepada warga AS di luar ibu kota. (hanoum/arrahmah.id)
