MOSKOW (Arrahmah.id) - Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada Rabu (28/1/2026), seiring Kremlin berupaya mengamankan masa depan pangkalan militernya di negara tersebut.
Putin dan Asy Syaraa menunjukkan sikap damai pada pertemuan mereka sebelumnya pada bulan Oktober, pertemuan pertama mereka sejak penggulingan sekutu Moskow, Bashar al-Assad, pada 2024.
Namun, perlindungan yang terus diberikan Rusia kepada Assad dan istrinya sejak penggulingan mereka tetap menjadi isu yang pelik. Asy Syaraa telah berulang kali mendesak Rusia untuk mengekstradisi mereka, lansir AFP.
Sementara itu, Asy Syaraa telah merangkul Presiden AS Donald Trump, yang pada Selasa memuji pemimpin Suriah itu, dan mengatakan bahwa segala sesuatunya "berjalan dengan sangat baik."
Putin, yang pengaruhnya di Timur Tengah telah melemah sejak penggulingan Assad, berupaya mempertahankan jejak militer Rusia di kawasan tersebut.
Rusia menarik pasukannya dari bandara Qamishli di wilayah timur laut Suriah yang dikuasai Kurdi awal pekan ini, sehingga hanya menyisakan pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan angkatan laut Tartus di pantai Mediterania Suriah—satu-satunya pos militer Rusia di luar bekas Uni Soviet.
“Diskusi direncanakan mengenai status hubungan bilateral dan prospek pengembangannya di berbagai bidang, serta situasi terkini di Timur Tengah,” kata Kremlin tentang pertemuan mendatang dalam sebuah pernyataan pada Selasa.
Rusia adalah sekutu utama Assad selama perang Suriah yang berdarah selama 14 tahun.
Penggulingan Assad memberikan pukulan besar terhadap pengaruh Rusia di kawasan itu dan mengungkap keterbatasan jangkauan militer Moskow di tengah perang Ukraina.
Amerika Serikat, yang bersorak gembira atas kejatuhan Assad, telah membina hubungan yang semakin hangat dengan Asy Syaraa. (haninmazaya/arrahmah.id)
