PARWAN (Arrahmah.id) - Pangkalan Udara Bagram pertama kali dibangun pada tahun 1950-an dengan bantuan Uni Soviet.
Selama invasi Soviet ke Afghanistan antara tahun 1979 dan 1989, pangkalan ini menjadi pusat utama operasi udara Soviet, dengan ribuan misi tempur diluncurkan dari sana melawan Mujahidin.
Setelah jatuhnya pemerintahan Dr. Najibullah dan pecahnya perang saudara, Bagram berpindah tangan beberapa kali di antara berbagai faksi. Pangkalan ini akhirnya direvitalisasi dengan kedatangan pasukan AS dan NATO pada 2001, menjadikannya salah satu instalasi militer paling strategis di dunia.
Di bawah kendali AS, Bagram berkembang menjadi "kota militer", dengan dua landasan pacu sepanjang lebih dari tiga kilometer, yang mampu menampung jet tempur, pesawat pengebom, dan pesawat angkut besar, lansir Tolo News (20/9/2025).
Ribuan kontainer, barak, restoran, rumah sakit, toko, dan bahkan pusat kebugaran dibangun di dalam pangkalan ini.
Bagi banyak tentara Amerika, Bagram menjadi "rumah kedua", meskipun dinding beton dan kawat berduri selalu menjadi pengingat akan garis depan.
Fazl Manallah Momtaz, seorang analis politik, menyatakan: "Pangkalan Udara Bagram sangat penting. Sebelum Amerika, Soviet sangat berfokus padanya untuk mempertahankan pengawasan atas wilayah tersebut."
Selama dua dekade terakhir, tiga presiden AS —George W. Bush, Barack Obama, dan Donald Trump— mengunjungi Bagram. Joe Biden juga mengunjungi pangkalan tersebut pada 2011 saat menjabat sebagai Wakil Presiden.
Pada musim panas 2021, sesaat sebelum kembalinya Imarah Islam ke tampuk kekuasaan, pasukan AS tiba-tiba meninggalkan Bagram pada malam hari. Menjelang pagi, tentara Afghanistan dan penduduk setempat tiba dengan rasa tidak percaya di pangkalan kosong yang telah melambangkan kehadiran internasional di Afghanistan selama dua dekade.
Sayed Abdullah Sadeq, analis politik lainnya, mengatakan: "Afghanistan sendiri merupakan titik strategis, dan Bagram adalah salah satu lapangan udara terbesar dan terpenting —yang direbut oleh Amerika setelah kedatangan mereka."
Namun Bagram bukan sekadar pangkalan militer; penjaranya yang terkenal kejam telah mendapatkan perhatian internasional. Ratusan warga Afghanistan yang dicurigai memiliki hubungan dengan Imarah Islam atau al-Qaeda ditahan dan diinterogasi di sana.
Banyak laporan penyiksaan dan kondisi yang keras mengubah Bagram menjadi apa yang kemudian disebut banyak orang sebagai "Guantanamo-nya Afghanistan."
Ahmad Khan Andar, seorang analis militer, berkomentar: "Mereka membangun penjara di dalam pangkalan ini, tempat mereka membawa warga Afghanistan yang dicap sebagai pendukung al-Qaeda dan Taliban, dan menyiksa mereka secara brutal."
Setelah penarikan pasukan AS, mantan Presiden Donald Trump berulang kali —lebih dari 20 kali— menegaskan bahwa Amerika Serikat seharusnya tidak pernah melepaskan Bagram. Hampir setiap kali ia menyebut pangkalan itu, ia langsung merujuk ke Cina, mengklaim bahwa Bagram telah jatuh ke tangan Beijing. (haninmazaya/arrahmah.id)
