TEL AVIV (Arrahmah.id) - 'Israel' menerapkan strategi media yang terkoordinasi untuk mengalihkan perhatian publik dari penyitaan kapal bantuan Madleen yang sedang menuju Gaza. Menurut berbagai laporan, langkah ini dilakukan untuk memanipulasi persepsi publik dan menyembunyikan sifat agresif dari operasi tersebut.
Media 'Israel', Ynet, melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri 'Israel' mengambil alih kendali penuh atas narasi media mengenai penyergapan kapal bantuan ini. Mayoritas media Barat kemudian mengikuti narasi resmi tersebut, strategi yang dirancang untuk menghindari kegagalan hubungan masyarakat seperti yang terjadi pasca serangan terhadap kapal Mavi Marmara pada 2010.
“Israel tampak sudah sangat siap. Operasi ini dilakukan dengan pengawasan ketat oleh militer, dan sebelumnya telah diputuskan bahwa pernyataan kepada media hanya akan disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri, bukan oleh militer,” tulis Ynet.
Sebagai bagian dari pendekatan medianya, harian Maariv melaporkan bahwa para aktivis di kapal dipaksa menonton cuplikan serangan Hamas pada 7 Oktober. Langkah ini dipandang banyak pihak sebagai teatrikal dan sama sekali tidak relevan dengan tujuan kemanusiaan misi mereka.
Para aktivis di atas kapal Madleen, termasuk aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, ditangkap setelah kapal dicegat oleh militer 'Israel'.
Ynet menggambarkan operasi ini sebagai “lancar dan cepat” serta “tanpa korban luka,” berbeda dengan tragedi berdarah Mavi Marmara lima belas tahun silam.
Thunberg difilmkan sedang tersenyum di depan kamera militer 'Israel'. Media 'Israel' menyoroti bahwa para tahanan diberi air mineral dan roti lapis, meskipun disebutkan Thunberg, yang seorang vegetarian ketat, justru diberi sandwich pastrami.
'Upaya memutihkan penyitaan kapal bantuan'
Penyitaan kapal ini dan penahanan para penumpangnya dikecam banyak pihak sebagai upaya untuk memutihkan kejahatan 'Israel' dan menggagalkan pengiriman bantuan kepada warga Gaza yang kelaparan.
Lamis Andoni, jurnalis dan akademisi Palestina sekaligus pendiri media The New Arab, menegaskan bahwa 'Israel' memanipulasi pemberitaan media demi memperbaiki citranya di mata dunia.
“Memperlihatkan video 7 Oktober kepada para aktivis, seolah-olah mereka bodoh, itu konyol. Semua orang di kapal itu tahu konteks dan sejarahnya. Salah satu dari mereka bahkan anggota parlemen Eropa,” ujar Andoni.
“Anda memberi roti lapis dan air pada aktivis Barat untuk difoto kamera, sementara di Gaza, 'Israel' membiarkan warga Palestina mati kelaparan. Siapa yang bisa percaya ini bukan propaganda?” lanjutnya.
Ia juga menambahkan bahwa jika para penumpangnya adalah orang Arab atau bukan tokoh ternama, perlakuan 'Israel' pasti akan jauh lebih keras.
“Israel sedang kalah dalam perang citra. Itulah sebabnya mereka mati-matian membuat pertunjukan semacam ini,” tegasnya.
Andoni juga mengingatkan peristiwa Ship of Return pada 1987, sebuah kapal simbolis yang diorganisir oleh PLO dan diserang 'Israel' bahkan sebelum para penumpang sempat naik.
“Itu kapal damai dan simbolis. Media diundang untuk menyaksikan bahwa tak ada senjata. Tapi 'Israel' tetap membom kapal itu sepuluh jam sebelum keberangkatan,” katanya.
Sementara para penumpang Madleen ditahan, militer 'Israel' terus melakukan serangan mematikan di Gaza. Pada hari yang sama, setidaknya 60 warga sipil terbunuh, ujar Andoni.
Amnesty: Pelanggaran hukum internasional
Organisasi Amnesty International mengecam penyergapan kapal Madleen sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
“Dengan mencegat secara paksa dan memblokade kapal Madleen, yang membawa bantuan kemanusiaan dan aktivis solidaritas, 'Israel' sekali lagi melanggar kewajiban hukumnya terhadap warga sipil di Gaza,” ujar Sekretaris Jenderal Amnesty, Agnes Callamard.
“Tindakan ini, meski ada seruan internasional untuk memberikan jalur aman, mencerminkan impunitas yang telah dinikmati Israel selama puluhan tahun. Ini memperkuat blokade ilegal atas Gaza dan semakin menegaskan konteks luas yang kini secara luas diakui sebagai tindakan genosida,” tambahnya (zarahamala/arrahmah.id)
