TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Dokumen resmi yang bocor mengungkapkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) berencana menggunakan pangkalan militernya untuk memperkuat 'Israel' dalam memerangi kelompok perlawanan Palestina Hamas.
Dokumen tersebut, yang diperoleh dan dirilis oleh situs web Emirates Leaks, menimbulkan gelombang di situs media anti-Israel.
Dilansir Euronews (14/1/2026), Dokumen Oktober 2023, yang ditujukan kepada Komando Operasi Gabungan Pasukan UEA, menunjukkan bahwa UEA bermaksud menggunakan pangkalan militer mereka di Laut Merah selatan, termasuk Yaman, Eritrea, dan Somalia, untuk memberikan bantuan militer, logistik, dan intelijen kepada 'Israel' untuk perangnya melawan Hamas.
Dokumen-dokumen tersebut mengambil nada yang jelas pro-Israel. Satu bagian--berupa ringkasan--membahas, "Awal serangan teroris di Palestina terhadap negara saudara 'Israel'."
Ringkasan yang sama kemudian merujuk pada Perjanjian Abraham. "Uni Emirat Arab dan 'Israel' terhubung oleh hubungan budaya, diplomatik, ekonomi, dan keamanan yang erat, serta hubungan ini telah meningkat sejak perjanjian bersejarah tahun 2020."
Laporan tersebut kemudian mengonfirmasi bahwa Komando Operasi Gabungan UEA mengeluarkan perintah untuk mendukung 'Israel' melalui pangkalan militer di wilayah Laut Merah selatan yaitu al-Mokha di pantai barat Yaman, Massawa dan Assab di Eritrea, serta Berbera dan Bassa di Somalia.
"Persiapan dan mobilisasi kemampuan yang tersedia dengan cepat diperlukan untuk memasok pangkalan militer kita di Laut Merah selatan, khususnya Yaman, dengan segala yang dibutuhkan untuk mendukung 'Israel'," demikian bunyi laporan tersebut.
Dokumen-dokumen tersebut mengonfirmasi bahwa para pejabat militer UEA melakukan perjalanan ke berbagai pangkalan untuk menilai kesesuaiannya dalam mendukung 'Israel'.
Halaman selanjutnya dalam dokumen tersebut mengungkapkan bahwa UEA--segera setelah invasi Hamas pada 7 Oktober--melakukan investigasi ekstensif terhadap dukungan besar-besaran yang diberikan Qatar kepada Hamas.
Laporan tersebut menemukan bahwa dukungan yang diberikan Qatar kepada organisasi itu dalam bentuk bantuan keuangan dan logistik sangat besar. Begitu pun dukungan yang diberikan Kuwait, "Cukup untuk menghambat setiap pergerakan kami di sepanjang Laut Merah bagian selatan."
Hal ini, lanjut laporan tersebut, meningkatkan kemungkinan intervensi oleh Komando Operasi Gabungan Pasukan UEA. Akibatnya menyebabkan peningkatan pengeluaran yang signifikan.
Dokumen tersebut selanjutnya menyebut Kuwait sebagai salah satu pihak yang memusuhi UEA. Kemudian, teks tersebut merinci pertemuan tingkat tinggi di antara para pejabat militer UEA pada Oktober.
Misalnya, pada 19 Oktober, asisten komandan pertama pasukan UEA di Yaman, Brigjen Saeed al-Marzooqi, bertemu dengan Brigjen Tareq Mohammed Abdullah Saleh dari perlawanan Yaman di markas besar ruang operasi pangkalan di al-Mokha, Yaman.
Selama pertemuan tersebut, para perwira memutuskan untuk membuka saluran komunikasi antara Pasukan Perlawanan Nasional Yaman (NRF) dan Israel. Mereka juga memutuskan untuk mengalokasikan semua senjata ringan dan menengah serta mempersiapkannya secara teknis dan logistik untuk pengiriman ke Israel.
Kemudian, dalam pertemuan 21 Oktober di pangkalan Assab di Eritrea, para jenderal UEA memutuskan untuk menyediakan pangkalan militer ini dengan semua dukungan logistik dan mengalokasikan semua lokasi di Pulau Dahlak dan Kepulauan Dahlak untuk tujuan memasok Israel.
Termasuk dalam kerangka kerja ini ialah bandara untuk mengangkut pasokan ke Tel Aviv dengan helikopter, dermaga apung, dan stasiun komunikasi.
Mereka juga memutuskan, menurut dokumen yang bocor itu, untuk mengangkut 27 tank modern mereka yang ditempatkan di pangkalan tersebut ke Tel Aviv melalui kapal yang ditunjuk dan untuk memasok Israel dengan rudal fosfor yang disimpan di gudang pangkalan tersebut.
Lebih lanjut, selama pertemuan siang hari di pangkalan Massawa pada 21 Oktober, diputuskan untuk mengamankan dukungan intelijen dengan menugaskan kembali misi ruang operasi, yang memantau pergerakan elemen al-Islah/Ikhwanul Muslimin di sepanjang pantai barat, untuk melayani dukungan intelijen bagi Israel.
UEA juga meminta bantuan dari perusahaan intelijen swasta AS, Stratfor, yang memiliki kantor kehormatan di pangkalan tersebut. Seorang perwakilan Stratfor, Ryan Paul, hadir dalam pertemuan tersebut.
Dokumen-dokumen tersebut menegaskan bahwa semua dukungan kepada 'Israel' akan berlanjut, tulis laporan itu, "Sampai teroris di Palestina dikalahkan." (hanoum/arrahmah.id)
