Memuat...

MUI Sarankan Perkuat Ketahanan Pangan untuk Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

Ameera
Selasa, 3 Maret 2026 / 14 Ramadan 1447 21:29
MUI Sarankan Perkuat Ketahanan Pangan untuk Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah
MUI Sarankan Perkuat Ketahanan Pangan untuk Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah

JAKARTA (Arrahmah.id) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyarankan pemerintah Indonesia untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sebagai langkah mitigasi menghadapi dampak konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Wakil Ketua Umum MUI, Cholil Nafis, mengatakan bahwa eskalasi konflik berpotensi memengaruhi perekonomian Indonesia, terutama jika terjadi penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu jalur utama distribusi energi dunia.

Menurutnya, jika hal tersebut terjadi dan harga minyak melonjak, maka ekonomi Indonesia bisa ikut terdampak karena masih bergantung pada impor bahan bakar minyak (BBM).

“Dengan penguatan ketahanan pangan nasional, diharapkan dampaknya dapat diminimalkan. Yang penting, dampak ekonomi tidak berkembang menjadi gangguan keamanan dalam negeri,” ujar Cholil di Jakarta, Selasa.

Ia menambahkan, dalam menyikapi konflik Timur Tengah, masyarakat Indonesia diharapkan memiliki sikap yang sama, yaitu mengedepankan nilai kemanusiaan, menghentikan serangan, serta mendorong terciptanya perdamaian.

Cholil juga menyatakan dukungan terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang berupaya mengambil peran sebagai juru damai dalam konflik tersebut.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, mendamaikan pihak yang bertikai merupakan tindakan yang sangat mulia.

“Kami mendukung upaya Presiden Prabowo untuk menjadi juru damai. Namun tetap harus memperhatikan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif serta menjaga keamanan dan kepentingan dalam negeri,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konstitusi Indonesia juga mengamanahkan negara untuk ikut serta menciptakan perdamaian dunia.

Karena itu, langkah pemerintah untuk berperan dalam diplomasi perdamaian dinilai perlu didukung secara realistis, sesuai kapasitas dan koridor diplomasi yang dimiliki Indonesia.

Terkait meningkatnya ketegangan, MUI juga menegaskan bahwa masyarakat dunia tentu menginginkan situasi yang damai.

Cholil menyampaikan kecaman terhadap serangan yang terjadi terhadap Iran, namun pada saat yang sama mengingatkan agar respons balasan tidak melampaui batas dan tidak memperluas konflik hingga mengganggu negara lain.

Ia secara khusus menekankan pentingnya menjaga keamanan kawasan, termasuk tidak sampai mengancam dua kota suci umat Islam, yakni Mekkah dan Madinah.

“Konflik tidak boleh berkembang menjadi konflik kawasan atau bahkan konflik dunia. Serangan balasan hendaknya tidak meluas di luar sasaran militer yang terlibat,” ujarnya.

(ameera/arrahmah.id)