JAKARTA (Arrahmah.id) - Pernyataan kontroversial muncul terkait kabar terbunuhnya Pemimpin Spiritual Iran, Ali Khamenei.
Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Din Syamsuddin, menilai peristiwa tersebut bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga berpotensi memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, Din Syamsuddin menegaskan bahwa pembunuhan terhadap pemimpin spiritual dan sejumlah jenderal Iran merupakan tindakan yang keji serta melanggar hak asasi manusia dan hukum internasional.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk terorisme nyata yang patut dikecam oleh masyarakat dunia.
Namun menurutnya, kesyahidan pemimpin Iran itu justru dapat menjadi pemicu semangat baru bagi Iran untuk melakukan serangan balasan terhadap Israel dan kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Ia menilai Iran memiliki kemampuan militer yang besar dan dukungan rakyat yang kuat, terutama karena sejarah panjang bangsa tersebut yang dikenal memiliki daya juang tinggi.
Din memperkirakan situasi ini dapat membuat Israel dan Amerika Serikat menghadapi tekanan besar di kawasan, termasuk kemungkinan meningkatnya serangan terhadap Tel Aviv dan pangkalan militer Amerika Serikat.
Dalam pandangannya, kondisi tersebut bisa mendorong pihak-pihak terkait untuk mencari jalan keluar seperti gencatan senjata.
Lebih lanjut, ia menyerukan kepada negara-negara Arab dan anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) agar menunjukkan solidaritas kemanusiaan dan keislaman.
Menurutnya, umat Islam di dunia sudah cukup matang untuk tidak terpecah oleh politik divide et impera antara Sunni dan Syiah.
Terkait posisi Indonesia, Din Syamsuddin menyatakan bahwa Indonesia harus tetap berpegang pada amanat konstitusi untuk menentang segala bentuk penjajahan dan agresi antarnegara.
Ia juga menyinggung sikap Presiden Prabowo Subianto agar mempertimbangkan kembali keterlibatan dalam gagasan Board of Peace yang dikaitkan dengan Presiden Donald Trump, serta meninjau kembali pernyataan mengenai pentingnya menjamin keamanan Israel.
Menurut Din, Indonesia perlu konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif yang menekankan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian sejati.
Ia menilai sikap tersebut pernah ditunjukkan oleh para pemimpin Indonesia sebelumnya, seperti Sukarno dan Suharto, yang dikenal tegas terhadap neo-kolonialisme dan imperialisme.
Din Syamsuddin juga menyebut bahwa konsep Board of Peace yang diklaim sebagai upaya perdamaian berpotensi menjadi bentuk baru dari dominasi politik global, sehingga perlu disikapi secara kritis oleh Indonesia dan negara-negara lain di dunia.
(ameera/arrahmah.id)
