Memuat...

Bocor! Inggris Dukung “Israel” Serang Gaza Lewat Misi Mata-mata Udara

Samir Musa
Rabu, 13 Agustus 2025 / 20 Safar 1447 08:19
Bocor! Inggris Dukung “Israel” Serang Gaza Lewat Misi Mata-mata Udara
Bocor! Inggris Dukung “Israel” Serang Gaza Lewat Misi Mata-mata Udara

GAZA (Arrahmah.id) — Situs investigasi Inggris Declassified UK mengungkap bahwa pesawat-pesawat mata-mata Amerika Serikat dan Inggris telah melakukan penerbangan di atas wilayah udara Gaza untuk mendukung operasi militer “Israel”. Penerbangan ini dilakukan di tengah agresi brutal “Israel” yang telah berlangsung selama 22 bulan terhadap Jalur Gaza.

Menurut laporan tersebut, sebagian penerbangan lepas landas dari pangkalan militer Inggris di Siprus dan terbang di dekat Kamp Nushairat sebelum dan saat terjadinya pembantaian yang dilakukan pasukan penjajah “Israel” pada Desember tahun lalu, serta dalam dua pekan menjelang pembantaian serupa pada Juni 2024.

Laporan terbaru ini kembali memunculkan tuduhan bahwa London terlibat dalam kejahatan genosida melalui dukungan militer dan intelijen kepada “Israel”. Disebutkan, sebuah misi pengintaian berangkat dari pangkalan Inggris di Siprus ke wilayah udara dekat Kamp Nushairat hanya satu malam sebelum serangan udara yang menewaskan 30 warga Palestina pada 12 Desember 2024.

Dalam insiden itu, dua pesawat pengintai digunakan. Pertama, pesawat milik perusahaan Amerika Street Flight Nevada, tipe Beechcraft Super King Air 350, yang terbang selama 20 menit setelah meninggalkan pangkalan Inggris pada malam sebelum serangan. Kedua, pesawat pengintai Inggris tipe Shadow R1 yang beroperasi pada sore hari saat serangan terjadi. Pesawat ini sempat berada di lepas pantai Gaza selama sekitar 30 menit, dan kembali terbang dekat Gaza kurang dari satu jam setelah serangan berakhir.

Pemerintah Inggris tidak mengungkapkan detail informasi yang dibagikan kepada penjajah “Israel” pada hari itu maupun di kesempatan lain, dan hanya mengklaim bahwa misi tersebut merupakan bagian dari upaya mencari tawanan “Israel”.

Sejak dimulainya perang, Inggris tercatat telah melakukan lebih dari 600 penerbangan pengintaian di atas Gaza, menurut analisis organisasi Action on Armed Violence yang berbasis di London.

Declassified juga mencatat bahwa pembantaian 12 Desember 2024 bukan satu-satunya yang didahului penerbangan militer Inggris. Pada 8 Juni 2024, “Israel” kembali menyerang Kamp Nushairat dengan dalih membebaskan empat tawanan, yang berujung pada pembantaian lebih dari 270 warga Palestina. Dalam dua pekan sebelum serangan tersebut, Angkatan Udara Inggris melakukan 24 penerbangan di atas atau dekat Gaza.

Sementara itu, The Times Inggris pekan lalu melaporkan bahwa pesawat-pesawat mata-mata Inggris masih terus melakukan misi di atas Gaza untuk membantu “Israel” mencari tawanan. Mengutip sumber pemerintah, media tersebut menyebut bahwa intelijen yang dikumpulkan berbagai unit Inggris di kawasan, termasuk Angkatan Udara Kerajaan, diserahkan kepada militer penjajah “Israel” untuk mendapatkan informasi waktu-nyata terkait tawanan.

Pemerintah Inggris tidak menyangkal pemberian informasi ini, bahkan sebelumnya secara terbuka menyatakan dukungan terhadap operasi pembebasan tawanan dan pengiriman pesawat pengintai di wilayah udara Israel dan Gaza.

Meski demikian, hubungan politik London–Tel Aviv kini berada di titik terendah setelah pemerintahan Partai Buruh menjatuhkan sanksi kepada sejumlah menteri sayap kanan ekstrem “Israel” dan mengumumkan rencana untuk mengakui Negara Palestina jika “Israel” tidak memperbaiki kondisi di Gaza.

Sejak 7 Oktober 2023, “Israel” dengan dukungan penuh Amerika Serikat melancarkan genosida di Jalur Gaza, mencakup pembunuhan massal, kelaparan, penghancuran, dan pengusiran paksa. Aksi ini dilakukan dengan mengabaikan seluruh seruan internasional dan perintah Mahkamah Internasional untuk menghentikannya.

Agresi ini telah menewaskan 61.599 warga Palestina, melukai 154.088 orang — mayoritas anak-anak dan perempuan — serta menyebabkan lebih dari 9.000 orang hilang. Ratusan ribu lainnya mengungsi, sementara kelaparan telah merenggut 222 jiwa, termasuk 101 anak.

(Samirmusa/arrahmah.id)