Memuat...

#BoycottUAE Trending: UEA Dituduh Dukung Pembantaian oleh RSF di Sudan

Zarah Amala
Senin, 3 November 2025 / 13 Jumadilawal 1447 10:30
#BoycottUAE Trending: UEA Dituduh Dukung Pembantaian oleh RSF di Sudan
Para pengunjuk rasa yang menentang Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan peran UEA di Sudan berdemonstrasi di London ketika pemerintah Inggris menyelenggarakan konferensi tentang perang pada 15 April 2025 (Vuk Valcic/ZUMA Press Wire/Reuters)

KHARTOUM (Arrahmah.id) - Seruan untuk memboikot Uni Emirat Arab (UEA) dan perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengannya semakin meluas di media sosial, dipicu oleh kemarahan publik atas dukungan negara Teluk itu terhadap pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) dalam perang yang menghancurkan Sudan.

Kampanye ini, yang sebenarnya telah beredar selama bertahun-tahun di kalangan masyarakat Sudan dan diaspora, kembali menguat setelah RSF merebut kota El-Fasher di Darfur Utara pada 26 Oktober lalu.

Penaklukan benteng terakhir militer Sudan (SAF) di wilayah itu disertai pembantaian besar-besaran, dengan rekaman mengerikan menunjukkan pejuang RSF menyombongkan diri setelah membunuh warga sipil, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua, saat warga melarikan diri dari kota.

Citra satelit memperlihatkan jalan-jalan yang berlumuran darah dan kehancuran luas, memicu gelombang kemarahan di dunia maya.

Sudah banyak bukti yang menunjukkan bahwa Abu Dhabi merupakan pendukung utama RSF, dengan memasok senjata dan perlengkapan logistik kepada kelompok tersebut.

Sebagai tanggapan, para pengguna media sosial menyerukan agar Washington, salah satu pemasok utama senjata UEA, menjatuhkan embargo senjata terhadap negara itu serta menjatuhkan sanksi pada RSF dan para pemimpinnya.

Seruan boikot juga meluas ke aspek wisata dan ekonomi, di mana banyak pengguna menyerukan untuk membatalkan perjalanan ke Dubai, menghindari produk asal Emirat, dan menolak bekerja sama dengan perusahaan yang berbasis di UEA. “Berhentilah pergi ke Dubai dan Abu Dhabi, boikot UEA karena kejahatan mereka di Sudan,” tulis salah satu pengguna X. “Tidak sulit kok untuk liburan ke tempat lain, banyak tempat yang jauh lebih baik.”

Gerakan ini juga menyebarkan infografik bertajuk “Boycott for Sudan”, yang menampilkan merek-merek besar asal UEA seperti Etihad Airways, serta sejumlah perusahaan internasional yang dianggap memiliki hubungan bisnis dengan Abu Dhabi.

Ketika maskapai Emirates memposting pesan promosi di X berbunyi “This is how we do Business ☁️😇”, warganet langsung membanjiri kolom komentar dengan kritik pedas.

Salah satu pengguna menulis balasan, “Ini juga cara kalian berbisnis,” sambil melampirkan video pejuang RSF yang menembak mati pria-pria tak bersenjata.

Pengguna lain menambahkan, “Semua komentar membongkar tindakan genosida UEA di Sudan. UEA terlalu percaya diri. Sekarang bahkan orang biasa yang tak tertarik politik pun membenci negara itu. Masalah ini tak akan hilang, UEA telah menghancurkan reputasinya sendiri.”

Beberapa pengguna juga menyerukan boikot terhadap ekspor emas UEA, yang merupakan salah satu eksportir emas terbesar dunia. Banyak dari emas tersebut diduga diselundupkan dari tambang yang dikuasai RSF.

Seruan Boikot Emas UEA demi Sudan

Sebagian warganet mengaitkan gerakan boikot ini dengan konteks regional yang lebih luas, membandingkan dukungan UEA terhadap RSF dan kekejaman kelompok itu di Sudan dengan genosida 'Israel' di Gaza.

Salah satu unggahan yang banyak dibagikan menulis, “Batalkan perjalananmu ke Dubai, tahun ini, tahun depan, dan selamanya. Jika kamu benar-benar solidaritas dengan Palestina, kamu akan paham bahwa UEA sejajar dengan 'Israel' dalam hal ini: mendanai milisi teroris di Sudan selama bertahun-tahun sebagai imbalan atas emas Sudan. Boikot UEA.”

Jurnalis Palestina Hind Khoudary, yang saat ini berada di Gaza, mengatakan bahwa ia semula berencana mengunjungi makam ayahnya di UEA setelah perang berakhir, namun kini memilih untuk ikut memboikot negara itu, sambil menyerukan orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Latar Belakang Perang Sudan

Perang di Sudan meletus pada April 2023, ketika ketegangan lama antara SAF (yang dipimpin Jenderal Abdel Fattah al-Burhan) dan RSF (yang dikomandoi Mohamed Hamdan Dagalo alias Hemedti) berubah menjadi konflik terbuka.

Kekerasan itu awalnya dipicu oleh perselisihan tentang rencana integrasi RSF ke dalam angkatan bersenjata reguler, namun dengan cepat berkembang menjadi perang nasional yang telah menewaskan puluhan ribu orang dan mengungsikan lebih dari 13 juta warga Sudan.

Pasukan RSF dituduh melakukan pembantaian dan kejahatan kemanusiaan, termasuk genosida di wilayah lain Darfur.

Meski UEA membantah mendukung RSF, berbagai laporan telah mendokumentasikan dukungan material Abu Dhabi terhadap kelompok itu.

Pada Januari 2024, Middle East Eye melaporkan bahwa UEA memasok senjata kepada RSF melalui jaringan jalur pasokan dan aliansi yang kompleks yang membentang di Libya, Chad, Uganda, dan wilayah Somalia yang memisahkan diri. (zarahamala/arrahmah.id)