Memuat...

Bupati Pesisir Selatan siap larang penampilan organ tunggal umbar aurat

A. Z. Muttaqin
Selasa, 15 Maret 2016 / 6 Jumadilakhir 1437 21:00
Bupati Pesisir Selatan siap larang penampilan organ tunggal umbar aurat
Bupati Pessel Hendrajoni dalam sebuah acara di Masjid. (Humas)

PAINAN(Arrahmah.com) - Pe­me­rin­tah Kabupaten Pesisir Se­latan (Pessel) bersiap meluncurkan peraturan tentang larangan kegiatan hiburan organ tunggal yang mengumbar aurat permpuan. Bupati Pessel Hendrajoni menyatakan, ini me­ru­pakan bentuk tindakan tegas dari pemerintah terhadap ta­rian erotis yang muncul saat orgen tunggal.

"Tarian eksotis yang bela­kangan marak terjadi harus dihentikan. Ini akan merusak moral dan mental masyarakat terutama generasi muda. Dari sudut pandang agama per­buat­an atau kegiatan men­gum­bar aurat bisa mengundang ben­cana. Jadi untuk men­gan­tisipasi kedepan pemerintah segera keluarkan peraturan," katanya, Kamis (10/3/2016), dikutip dari Haluan.

Bupati menegaskan bahwa Kabu­paten Pesisir Selatan sangat menjunjung tinggi nilai agama dan adat, maka tidak pantas kegiatan hiburan diselipkan tarian eksotis.

Sementara Tokoh Pemuda Pessel Arif Yumardi menyebutkan, Pesisir Selatan yang berada di selatan Kota Padang Provinsi Suma­tera Barat saban waktu terus mengalami perkembangan. Kawasan destinasi wisata baru pun bermunculan di sepanjang garis pantai yang ber­dam­pak pada ber­ke­m­­bangnya usaha pe­n­ye­diaan jasa dan ba­rang oleh masya­rakat lokal. Toko, ke­dai, pusat-pusat per­be­lan­jaa­n mini, p­e­ngi­­napan pun men­jamur di ba­n­yak tem­pat. Pessel yang dulu lengang, kini sudah ramai.

"Pergeseran nilai pun dari waktu ke waktu terus terjadi. Kegiatan yang awalnya tabu dan sulit diterima masya­rakat kini sudah jadi pakaian atau setidaknya bukan barang aneh lagi. Salah satunya adalah soal hiburan di pesta per­kawinan, atau kegiatan pemuda mengisi momen tertentu," kata mantan Ketua KNPI Pessel tersebut.

Terkait, Yendi Imam Bandaro Kam­pai pemangku adat di Lenga­yang juga mengatakan, yang terjadi saat ini, seolah-olah ninik mamak sudah sulit me­nolak permintaan anak ke­mena­kan mengganti musik tradisi rabab dengan alat musik elektronik atau orgen tunggal. Rabab, alat musik gesek tradisional khas Minangkabau yang terbuat dari tempurung kelapa, tidak banyak peminat. Sementara musik modern ini , kata dia, bisa membuat banyak orang bertahan selama pesta hingga pagi.

"Selaku pe­n­gu­a­sa di pesta pe­r­­­kawinan ke­me­nakan, suara ni­nik mamak jus­tru terkadang se­ring hilang bila ada permintaan menggelar bu­nyi -bunyian ber­upa musik program. Ninik mamak ha­­nya bisa berpesan jaga ke­am­a­nan dan berpakaianlah yang sopan. Dan akhirnya musik tradisi yang selama ini melekat dengan perhelatan adat mulai ditinggalkan. Gantang dituka orang panggaleh, jalan dialiah orang lalu, demikian pantun lamanya," katanya.

Menurutnya, pesta per­ka­winan yang sejatinya dibalut dengan tradisi adat, belakangan dijadikan alas dari pertunjukan nyanyian dan tarian yang tak sesuai akidah dan adat. Kata dia, rasa malu kemudian di­kesam­pingkan.

"Rasanya nyaris tidak ada tempat di Pessel yang tidak menerima tarian mengumbar aurat di orgen tunggal," pung­kas Yendi.

(azm/arrahmah.com)