DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Aksi kemarahan meledak di Damaskus ketika massa menggeruduk Kedutaan Besar Uni Emirat Arab sebagai bentuk protes terhadap kebijakan 'Israel' yang disebut akan menerapkan hukuman mati terhadap tahanan Palestina. Dalam aksi tersebut, demonstran bahkan menyebut gedung diplomatik itu sebagai “Zionist Embassy of the UAE”, menandai meningkatnya kemarahan publik terhadap normalisasi hubungan Arab–Israel.
Dilansir Anadolu Agency (5/4/2026), insiden terjadi ketika massa berkumpul di sekitar kompleks kedutaan di Damaskus dan melakukan aksi protes yang kemudian berujung pada penyerbuan. Pemerintah Suriah mengecam keras insiden tersebut dan berjanji akan mengambil langkah tegas untuk merespons pelanggaran terhadap fasilitas diplomatik di wilayahnya.
Dalam pernyataan resminya, otoritas Suriah menegaskan bahwa keamanan misi diplomatik merupakan tanggung jawab negara dan insiden tersebut mencerminkan tantangan serius dalam menjaga stabilitas keamanan di tengah situasi regional yang memanas.
Sementara itu, pejabat senior UEA, Anwar Gargash, menyebut insiden tersebut sebagai cerminan “cacat dalam lingkungan keamanan” dan menegaskan pentingnya perlindungan terhadap fasilitas diplomatik sesuai hukum internasional. Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran Abu Dhabi atas keselamatan perwakilannya di luar negeri.
Aksi protes ini dipicu oleh kemarahan publik terhadap kebijakan 'Israel' terkait tahanan Palestina, yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan internasional. Sejumlah laporan media global menyebut rencana atau wacana hukuman mati terhadap tahanan Palestina memicu kecaman luas dari berbagai organisasi hak asasi manusia dan negara-negara di kawasan.
Sejak penandatanganan Abraham Accords, hubungan antara UEA dan Israel terus berkembang, namun juga memicu kritik dari sebagian masyarakat Arab yang menilai normalisasi tersebut mengabaikan perjuangan Palestina. Ketegangan ini kerap memunculkan aksi protes di berbagai negara Timur Tengah.
Hingga kini, situasi di sekitar kedutaan telah dikendalikan aparat keamanan Suriah, namun insiden ini menambah daftar panjang dampak konflik Israel–Palestina yang meluas hingga ke negara-negara lain di kawasan. Pengamat menilai sentimen publik terhadap isu Palestina tetap menjadi faktor kuat yang dapat memicu gejolak diplomatik di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)
