Memuat...

Data Terbaru: 'Israel' Membunuh Dua Tenaga Medis Setiap Hari, Jurnalis Setiap Tiga Hari

Zarah Amala
Kamis, 9 Oktober 2025 / 18 Rabiulakhir 1447 11:00
Data Terbaru: 'Israel' Membunuh Dua Tenaga Medis Setiap Hari, Jurnalis Setiap Tiga Hari
Para jurnalis mengorganisir aksi duduk di Kompleks Medis Nasser di Kota Khan Yunis untuk mengecam pembantaian yang mengerikan tersebut. (Foto: media sosial, via QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' membunuh rata-rata dua tenaga medis setiap hari dan menyebabkan 13 amputasi setiap dua hari, menurut laporan Kantor Media Pemerintah di Gaza pada Selasa (7/10/2025) yang dikutip oleh Al Mayadeen.

Laporan tersebut menyebutkan satu jurnalis Palestina terbunuh setiap tiga hari dan satu anggota pertahanan sipil setiap lima hari. Serangan 'Israel' juga melukai sekitar 232 orang setiap hari, lebih dari separuhnya perempuan dan anak-anak.

Kantor Media menambahkan bahwa enam warga Palestina mengalami kelumpuhan atau kehilangan penglihatan setiap dua hari akibat serangan berkelanjutan, sementara fasilitas kesehatan di Gaza menghadapi lebih dari satu serangan langsung setiap hari.

“Angka-angka ini mencerminkan dampak harian dari genosida yang terus berlangsung di Jalur Gaza,” kata pernyataan lembaga tersebut.

Memasuki tahun ketiga perang, genosida 'Israel' telah menghancurkan sistem kesehatan Gaza. Rumah sakit beroperasi jauh di atas kapasitas, dengan kekurangan pasokan medis akibat blokade total 'Israel' yang menghambat penanganan korban luka dan pengungsi, menurut laporan Al Mayadeen.

UNICEF: 64.000 Anak Tewas atau Cacat

Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) pada Rabu (8/10) memperingatkan bahwa anak-anak Gaza telah menjalani “dua tahun perang yang seperti neraka”, dengan puluhan ribu di antaranya tewas, cacat, atau kehilangan tempat tinggal akibat serangan Israel dan kelaparan yang memburuk.

“Selama lebih dari 700 hari, anak-anak di Gaza telah dibunuh, dimutilasi, dan dipaksa mengungsi dalam perang yang mencoreng kemanusiaan kita,” kata Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

Russell menegaskan bahwa serangan udara 'Israel' terhadap Kota Gaza dan wilayah lain masih berlanjut. “Dunia tidak boleh, dan tidak bisa, membiarkan hal ini terus terjadi,” ujarnya.

Menurut UNICEF, sekitar 64.000 anak telah tewas atau cacat di seluruh Jalur Gaza, termasuk sedikitnya 1.000 bayi. Russell menambahkan bahwa kelaparan masih terjadi di Kota Gaza dan mulai menyebar ke wilayah selatan, di mana anak-anak hidup dalam kondisi sangat memprihatinkan.

“Krisis gizi, terutama di kalangan bayi, sangat mengejutkan,” ujarnya, menambahkan bahwa berbulan-bulan tanpa makanan yang cukup telah menyebabkan kerusakan permanen pada pertumbuhan dan perkembangan anak-anak.

Bayi Berbagi Masker Oksigen

UNICEF juga mengungkap bahwa bayi-bayi baru lahir di Gaza terpaksa berbagi masker oksigen karena 'Israel' masih memblokir pengiriman peralatan medis penting.

“Kami berbicara tentang anak-anak yang harus berbagi masker oksigen demi bertahan hidup, sementara permintaan pengiriman alat vital itu terus ditolak,” kata Ricardo Peres, Wakil Juru Bicara UNICEF, dalam konferensi pers di Jenewa.

Juru bicara UNICEF, James Elder, mengatakan 'Israel' telah menolak lima misi kemanusiaan yang bertujuan mengevakuasi inkubator dan suplai oksigen bagi bayi prematur.

“Setiap penundaan misi kemanusiaan berarti hilangnya nyawa. Bayi-bayi sedang sekarat sekarang, sementara bantuan penyelamat hidup masih diblokir,” tegas UNICEF.

Misi Kemanusiaan Dihalang-halangi

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) melaporkan bahwa 'Israel' telah menolak atau menghambat 45 persen dari 8.000 misi kemanusiaan yang diajukan sejak 7 Oktober 2023.

UNICEF menyerukan evakuasi bayi sakit dan prematur dari rumah sakit di Gaza utara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini berhasil mengevakuasi tiga bayi ke rumah sakit di selatan, namun satu bayi meninggal sebelum misi selesai.

Saat ini, hanya 14 dari 36 rumah sakit di Jalur Gaza yang masih beroperasi, sebagian secara terbatas, menurut data WHO.

“Israel wajib melindungi warga sipil dan tidak boleh menghalangi bantuan kemanusiaan,” tegas UNICEF. “Setiap anak yang terbunuh adalah kehilangan yang tak tergantikan. Demi anak-anak Gaza, perang ini harus segera diakhiri.” (zarahamala/arrahmah.id)