Memuat...

Dengar AS-Turki akan Jalin Kerja Sama Pesawat Siluman, 'Israel' Ancam Serang Ankara

Hanoum
Senin, 14 Juli 2025 / 19 Muharam 1447 03:44
Dengar AS-Turki akan Jalin Kerja Sama Pesawat Siluman, 'Israel' Ancam Serang Ankara
Pesawat tempur F-35 dalam sebuah upacara di Lockheed Martin, Forth Worth, Texas, Amerika Serikat, pada 21 Juni 2018. [Foto: Anadolu Agency]

TEL AVIV (Arrahmah.id) -- 'Israel' kebakaran jenggot setelah mendapat kabar adanya pembicaraan antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang akan membuka pintu kembalinya kerja sama pengembangan jet siluman generasi kelima F-35.

Israel mengingatkan kembali perjanjian dengan AS sejak 1960 untuk menjaga konsistensi qualitative military edge atau QME (batas kualitatif militer) 'Israel' dengan negara-negara di Timur Tengah dan sekitarnya.

Perjanjian ini menjamin bahwa militer 'Israel' harus lebih superior dari negara-negara di Timur Tengah plus Turki.

Sebab itu, selama ini AS selalu menghalangi negara-negara Timur Tengah untuk pengadaan alutsista yang sekiranya akan mengalahkan kemampuan 'Israel'.

"Israel lebih suka menghindari konflik tetapi siap bertindak jika diperlukan," tegas pejabat senior Israel mendesak Kongres AS untuk menghalangi niat Turki tersebut.

Ia menggarisbawahi ancaman eksistensial yang akan ditimbulkan oleh kompromi pesawat siluman F-35 AS terhadap Turki dan kebebasan Angkatan Udara 'Israel' untuk bertindak di Suriah, Lebanon, dan sekitarnya.

Dilansir Maariv (13/7/2025), Turki, sebagai anggota NATO, sebenarnya memang sudah lama terlibat program pengembangan pesawat F-35 dan telah menginvestasikan 9 miiar dolar AS (sekitar Rp 145,6 triliun).

Dengan investasi dan kerja sama itu, Turki diproyeksikan akan mendapatkan 100 unit F-35. Namun, pada 2017 Turki membeli sistem pertahanan udara dari Rusia, S-400, dan mulai mendapatkan senjata canggih tersebut pada 2019.

Akibatnya, AS menjatuhkan sanksi dan mendepak Turki dari Proyek F-35.

Sebanyak enam unit F-35 yang menjadi jatah Turki juga masih ditahan di AS. Namun, pada perkembangan baru, Erdogan terus menekan Donald Trump agar kembali memberi kesempatan Turki ke dalam proyek tersebut karena sudah telanjur melakukan investasi besar.

Upaya Erdogan itu dilakukan saat kedua pemimpin itu bertemu pada KTT NATO di Den Haag, Belanda, Juni 2025.

Dalam percakapan via telepon, Erdogan kembali menegaskan keinginannya itu kepada Donald Trump.

Pada 29 Juni 2025, duta besar AS untuk Turki, Thomas Barrack mengisyaratkan, Turki bisa kembali ke proyek F-35 dan kebuntuan dengan Washington terkait pengadaan S-400 Rusia oleh Ankara dapat segera diselesaikan.

Hal itu berpotensi membuka pintu bagi Turki untuk mengakuisisi jet tempur F-35.

Komentar Barrack ini menyusul seruan pada bulan Maret 2025 ketika Erdogan meminta Donald Trump untuk mengizinkan Turki kembali bergabung dalam program F-35. (hanoum/arrahmah.id)