Memuat...

Difitnah Melapor dari Polandia, Dalloul Siaran Dari Atas Puing Rumahnya Sendiri

Zarah Amala
Rabu, 26 November 2025 / 6 Jumadilakhir 1447 11:00
Difitnah Melapor dari Polandia, Dalloul Siaran Dari Atas Puing Rumahnya Sendiri
Jurnalis yang berbasis di Gaza, Motasem A. Dalloul. (Foto: rekaman video)

GAZA (Arrahmah.id) - Jurnalis Gaza Motasem A. Dalloul membantah klaim Kementerian Luar Negeri 'Israel' yang menuduh dirinya melapor dari Polandia, bukan dari Jalur Gaza yang terkepung.

“Untuk orang-orang yang mengklaim bahwa saya berada di Polandia dan saya menulis serta mengunggah dari Polandia, saya hanya ingin memberi tahu kalian, kalau kalian bisa mengenali bangunan-bangunan seperti ini di Polandia, tolong beri tahu saya,” kata Dalloul dalam sebuah video yang menunjukkan bangunan hancur dan puing-puing di belakangnya.

Saat ia melanjutkan perekaman, terlihat tenda-tenda dan lebih banyak bangunan hancur, dan ia berkata: “Kalau kalian bisa mengenali tenda-tenda seperti ini dan kamp pengungsian seperti yang kalian lihat di sini, tolong beri tahu saya kalau ada yang seperti ini di Polandia. Silakan kabari saya.”

Beberapa hari yang lalu, X meluncurkan sistem otomatis baru untuk menandai “negara asal” pengguna berdasarkan alamat IP mereka.

Tuduhan ‘Jurnalis Palsu’

Pada Ahad (23/11/2025), Kementerian Luar Negeri 'Israel' men-tweet bahwa Dalloul adalah seorang “‘jurnalis’ palsu yang mengaku berada di Gaza.” Dengan mengutip fitur baru X, mereka mengatakan: “Fitur baru @X mengungkap lokasi sebenarnya adalah Polandia,” dan menuduhnya berbohong kepada “196.900 pengikutnya.”

“Laporan dari Gaza itu palsu dan tidak dapat dipercaya. Membuat kita bertanya-tanya, berapa banyak laporan palsu lain yang sudah kalian baca?” tambahnya.

Menurut laporan Mashable, fitur penanda lokasi itu dicabut oleh X hanya beberapa jam setelah diluncurkan.

Hingga kini, Kementerian Luar Negeri 'Israel' belum menarik atau mengoreksi cuitannya, dan X belum memberikan komentar mengenai akurasi tag lokasi yang dipasang pada akun Dalloul, lansir kantor berita Al Mayadeen.

‘Wajah Buruk Israel’

Ramy Abdu dari Euro-Med Human Rights Monitor mengkritik pernyataan Kementerian Luar Negeri 'Israel', dengan mengatakan: “Cuitan ini menunjukkan wajah buruk 'Israel' dan kebohongan yang menjadi bahan makanannya.”

Ia menambahkan bahwa Dalloul adalah jurnalis terkenal di Gaza yang telah “kehilangan istri, dua anak, dan sebagian besar anggota keluarganya akibat serangan 'Israel',” dan kini “menjadi sasaran fabrikasi terang-terangan yang bertujuan merusak narasi para korban.”

Dalloul terus mengunggah video dari dalam Gaza yang mendokumentasikan genosida, yang juga menewaskan istri dan tiga putranya.

‘Puing-Puing Rumah Saya’

Pada Senin (24/11), Dalloul mengunggah video dari depan tenda yang kini ia sebut sebagai rumah. “Saya tinggal di Gaza, di lingkungan Zaytun,” katanya. “Ini rumah saya, yang sekarang terdiri dari tiga tenda tempat anak-anak saya yang tersisa tinggal.

“Kalian tahu bahwa pasukan pendudukan 'Israel' telah membunuh istri saya dan tiga anak saya. Di belakang saya, seperti yang kalian lihat, adalah puing-puing rumah saya yang dihancurkan oleh militer pendudukan 'Israel'.”

Dalloul menegaskan bahwa “Saya telah tinggal di Gaza, saya tinggal di Gaza sekarang, dan akan tetap tinggal di Gaza sampai saya mati.”

Ia menambahkan: “Saya tidak pernah meninggalkan Gaza kecuali pada 2012 ketika saya mengambil gelar master di bidang jurnalisme internasional di London.”

Istri dan Tiga Putranya Terbunuh

Menurut Al Mayadeen, Dalloul memilih tetap tinggal di Gaza utara sepanjang dua tahun serangan genosida 'Israel'. Ia dan keluarganya telah dipaksa mengungsi 13 kali, termasuk terakhir kali saat hidup di tenda di lingkungan al-Rimal.

Pada Februari 2024, ketika kelaparan menyebar di Gaza utara, istrinya, Riham, dan putranya yang masih kecil, Abu Bakr, tewas dalam serangan 'Israel' di rumah keluarga sang istri.

Tiga bulan kemudian, “saat mencari puing-puing rumah mereka yang hancur di al-Zaytoun, tembakan tank 'Israel' membunuh putranya, Yehya, yang jenazahnya kemudian ditemukan hancur oleh kendaraan lapis baja,” tulis laporan tersebut.

Baru-baru ini, putranya yang berusia 21 tahun, Ibrahim, juga tewas bersama teman-temannya saat mencoba mencapai Gaza selatan untuk mendapatkan bantuan kemanusiaan. Dalloul mengetahui kabar kematiannya hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata.

'Israel' telah membunuh lebih dari 250 jurnalis sejak melancarkan serangan genosida di Gaza pada Oktober 2023, menurut Kantor Media Pemerintah Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)