GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah tim dokter internasional yang bertugas di Gaza mengungkapkan temuan mengerikan: anak-anak menunjukkan pola luka tembak yang sama, sehingga menimbulkan dugaan kuat mereka sengaja dijadikan sasaran. Laporan ini dipublikasikan pada Sabtu (13/9/2025) oleh harian Belanda De Volkskrant dan dikutip kantor berita Anadolu.
Investigasi tersebut didasarkan pada kesaksian 17 dokter dan seorang perawat dari AS, Inggris, Australia, Kanada, dan Belanda. Mereka telah bekerja di enam rumah sakit dan empat klinik di Gaza sejak Oktober 2023. Sebagian besar dari mereka sudah berpengalaman di zona krisis seperti Sudan, Afghanistan, dan Ukraina.
Dari jumlah itu, 15 tenaga medis mengatakan mereka menangani setidaknya 114 anak berusia 15 tahun ke bawah, semuanya menderita luka tembak tunggal di kepala atau dada. Sebagian besar luka tersebut berujung fatal. Kasus-kasus itu tercatat di 10 fasilitas medis berbeda antara akhir 2023 hingga pertengahan 2025.
“Empat Anak Ditembak di Kepala dalam Dua Hari”
Ahli bedah trauma asal AS, Feroze Sidhwa, menceritakan hari pertamanya di European Hospital pada Maret 2024. Dalam 48 jam, empat anak laki-laki berusia di bawah 10 tahun masuk dengan luka tembak identik di kepala.
“Bagaimana mungkin, di rumah sakit kecil ini, dalam 48 jam ada empat anak masuk dengan luka tembak di kepala?” kata Sidhwa. Dalam 13 hari berikutnya, ia kembali merawat sembilan anak dengan luka serupa.
Ia kemudian bertemu kolega di rumah sakit lain yang juga melaporkan kasus-kasus serupa “hampir setiap hari”. Dari situlah ia menyimpulkan: “Saat itu saya sadar: saya harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.”
Para dokter menegaskan, pola luka tersebut sangat kecil kemungkinan terjadi karena kecelakaan.
Ahli forensik yang dimintai pendapat oleh De Volkskrant memperkuat kesimpulan ini, dengan menyatakan bahwa keseragaman luka menunjukkan tembakan terarah, kemungkinan besar dilakukan penembak jitu atau drone.
Temuan ini muncul di tengah agresi 'Israel' yang terus menewaskan puluhan warga Palestina setiap hari dan memaksa jutaan orang terusir dari rumah mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
