TEL AVIV (Arrahmah.id) - Polisi 'Israel' pada Ahad (2/11/2025) mengumumkan bahwa mereka telah menemukan mantan Jaksa Agung Militer, Yifat Tomer-Yerushalmi, yang telah hilang sejak pagi di tengah kekhawatiran akan nyawanya dan spekulasi bahwa ia mungkin telah mencoba bunuh diri.
Sebelumnya, polisi dan militer 'Israel' melancarkan operasi pencarian besar-besaran pada Minggu (2/11) untuk menemukan sang jaksa, setelah keluarganya melaporkan bahwa ia menghilang sejak pagi hari, menurut laporan media 'Israel'.
Mobil milik Tomer-Yerushalmi kemudian ditemukan dekat Pantai Hatzuk di Tel Aviv bagian utara, tempat unit kepolisian dan militer 'Israel' terus menyisir area tersebut hingga malam hari. Sebuah surat dilaporkan ditemukan di dekat kendaraan itu, namun isinya belum diungkap.
Militer 'Israel' menyatakan bahwa pihaknya menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia untuk menemukan Tomer-Yerushalmi, yang tidak lagi berkomunikasi dengan siapa pun sejak Ahad pagi (2/11).
Kabar hilangnya Tomer-Yerushalmi muncul dua hari setelah ia mengundurkan diri dari jabatannya, menyusul pengumuman Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz yang memecatnya terkait dugaan kebocoran video berisi penyiksaan dan pelecehan seksual terhadap seorang tahanan Palestina di penjara Sde Teiman.
Tomer-Yerushalmi mengajukan pengunduran diri pada Jumat (31/11) setelah mengakui telah menyetujui publikasi bukti kekerasan di penjara tersebut ke media, yang selama ini dikenal sebagai fasilitas berisi tuduhan penyiksaan dan pembunuhan di luar hukum terhadap tahanan Palestina.
Video yang bocor, dan tayang di Channel 12 pada Agustus 2024, memperlihatkan tentara 'Israel' melakukan pelecehan seksual terhadap seorang tahanan Palestina yang kemudian meninggal akibat luka-lukanya.
Dalam surat pengunduran dirinya, Tomer-Yerushalmi menulis bahwa ia menyetujui rilis video tersebut untuk “melawan propaganda palsu” terhadap aparat penegak hukum militer dan menyatakan bertanggung jawab penuh atas keputusan itu.
Namun, Menteri Pertahanan 'Israel' Katz menuduhnya telah “mencoreng nama baik” tentara 'Israel' dan menegaskan bahwa ia tidak akan dikembalikan ke jabatannya, dengan alasan “keseriusan dugaan pelanggaran” dan “sensitivitas posisi yang ia pegang.”
Meski demikian, surat kabar Haaretz melaporkan bahwa penyidik belum menemukan bukti bahwa Tomer-Yerushalmi secara pribadi membocorkan rekaman itu, melainkan anak buahnya yang mungkin melakukannya dengan sepengetahuannya.
Lima tentara yang terlibat dalam kasus kekerasan tersebut telah didakwa tetapi tetap bebas.
Menurut Jerusalem Post, pengunduran diri Tomer-Yerushalmi dapat berdampak besar terhadap posisi hukum 'Israel' di pengadilan internasional, karena ia sebelumnya memimpin koordinasi militer dengan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mahkamah Internasional (ICJ).
Sejumlah lembaga HAM, termasuk Amnesty International, B’Tselem, dan Kantor HAM PBB, telah berulang kali mendokumentasikan penyiksaan sistematis dan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina di pusat-pusat penahanan 'Israel', menggambarkan Sde Teiman sebagai “kamp penyiksaan sadistik” di mana banyak tahanan “masuk hidup-hidup dan keluar dalam kantong jenazah.” (zarahamala/arrahmah.id)
