Memuat...

Faksi Palestina Setuju Gencatan Senjata 60 Hari, 'Israel' Belum Tentukan Sikap

Zarah Amala
Selasa, 19 Agustus 2025 / 26 Safar 1447 09:00
Faksi Palestina Setuju Gencatan Senjata 60 Hari, 'Israel' Belum Tentukan Sikap
Foto: tangkapan video

GAZA (Arrahmah.id) - Faksi-faksi Palestina menyetujui sebuah usulan baru untuk gencatan senjata di Jalur Gaza selama 60 hari dengan imbalan pertukaran sebagian tahanan. Namun, hingga kini 'Israel' belum menyatakan posisinya.

Menurut jurnalis Al Jazeera, Tamer Al-Mishal, proposal tersebut mencakup pertukaran 10 tahanan 'Israel' yang masih hidup serta 18 jenazah dengan 1.700 tahanan Palestina, termasuk 45 orang dengan hukuman seumur hidup dan 15 lainnya dengan hukuman tinggi.

Dalam tiga hari terakhir, Kairo menjadi tuan rumah perundingan yang diikuti oleh Hamas bersama seluruh faksi Palestina. Hamas menekankan perlunya posisi yang bersatu agar tidak dituding menggagalkan pembicaraan atau menjerumuskan warga Gaza ke eskalasi militer.

Rincian proposal menyebutkan:

  • Delapan tahanan 'Israel' yang masih hidup akan dibebaskan pada awal gencatan senjata 60 hari, sementara dua lainnya pada hari ke-50.

  • Jenazah tentara 'Israel' juga akan diserahkan secara bertahap.

  • Dari 1.700 tahanan Palestina yang dibebaskan, 1.500 di antaranya adalah warga Gaza yang ditangkap setelah 7 Oktober 2023.

Hamas awalnya meminta agar menunggu sikap 'Israel' sebelum memberi jawaban final, namun para mediator menjanjikan akan tetap mendorong jalur ini.

Dalam kerangka kesepakatan, pasukan 'Israel' akan mundur sejauh 1.000 meter dari perbatasan dan 1.200 meter dari kawasan padat penduduk, agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke utara dan selatan Gaza. Meski begitu, 'Israel' bersikeras bertahan di jarak 1.200 meter di beberapa titik seperti Beit Hanoun dan Shuja’iyya. Hamas pun menerima hal ini demi menyelamatkan warga dari ancaman kelaparan.

Para mediator juga berkomitmen mencegah kembalinya perang jika setelah dua bulan gencatan senjata belum tercapai kesepakatan damai. Namun, klausul ini tidak tertulis resmi dalam perjanjian.

Seorang sumber yang dekat dengan perundingan menyebut proposal ini sebagai solusi terbaik untuk mencegah eskalasi militer lebih lanjut, dengan menghentikan pertempuran selama 60 hari dan penarikan sebagian pasukan 'Israel' untuk memungkinkan masuknya bantuan.

Di sisi lain, 'Israel' belum menyatakan menerima atau menolak usulan ini. Situs berita 'Israel' Walla mengutip sumber militer yang menyebut sekitar 80.000 tentara 'Israel' dipersiapkan untuk mengepung Kota Gaza. Seorang pejabat militer memperingatkan, operasi pendudukan Kota Gaza akan sangat besar dan berisiko tinggi bagi pasukan 'Israel'.

Sebelumnya, lembaga penyiaran 'Israel' melaporkan bahwa Kepala Staf Eyal Zamir telah menyetujui rencana operasi militer untuk menduduki Kota Gaza pada Ahad malam (17/8/2025). (zarahamala/arrahmah.id)