Memuat...

Netanyahu Konfirmasi Tentara 'Israel' Tewas Akibat Tembakan Teman Sendiri di Gaza Selatan

Zarah Amala
Kamis, 19 Februari 2026 / 2 Ramadan 1447 10:01
Netanyahu Konfirmasi Tentara 'Israel' Tewas Akibat Tembakan Teman Sendiri di Gaza Selatan
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu (Getty)

GAZA (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' mengonfirmasi tewasnya seorang tentara di Jalur Gaza selatan pada Rabu (18/2/2026). Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kemudian mengonfirmasi bahwa tentara tersebut tewas akibat "tembakan teman sendiri" (friendly fire).

Sersan Satu Ofri Yafi (21), anggota unit pengintai terjun payung asal HaYogev, dilaporkan tewas dalam pertempuran di wilayah selatan. Dengan insiden ini, jumlah tentara 'Israel' yang tewas sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober lalu meningkat menjadi lima orang. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total 600 warga Palestina tewas akibat tembakan 'Israel' dalam periode yang sama.

Di sektor lapangan, Kompleks Medis Nasser melaporkan satu warga Palestina tewas akibat tembakan tentara 'Israel' di area penempatan pasukan sebelah timur kota Khan Yunis. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran harian di tengah masa gencatan senjata yang masih rapuh.

Pada hari yang sama, militer 'Israel' membebaskan 13 tahanan Palestina asal Jalur Gaza, termasuk seorang wanita. Mereka sebelumnya ditangkap selama dua tahun masa perang. Komite Internasional Palang Merah (ICRC) memfasilitasi pemindahan para tahanan ini melalui penyeberangan Kerem Shalom menuju Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah untuk dipertemukan kembali dengan keluarga mereka.

Meskipun laporan resmi tidak merinci kondisi kesehatan mereka, kesaksian dari para tahanan sebelumnya menunjukkan bahwa banyak yang dibebaskan dalam kondisi menderita malnutrisi dan cedera akibat penyiksaan fisik yang parah di dalam penjara.

ICRC menegaskan bahwa mereka belum diberikan akses ke pusat-pusat penahanan 'Israel' sejak Oktober 2023. Organisasi tersebut mendesak otoritas terkait untuk menginformasikan nasib dan keberadaan seluruh tahanan, mengizinkan kunjungan kemanusiaan secara berkala, dan memperlakukan tahanan secara manusiawi sesuai hukum humaniter internasional.

Saat ini, diperkirakan masih ada lebih dari 9.300 warga Palestina yang mendekam di penjara-penjara 'Israel', termasuk 66 wanita dan 350 anak-anak. Laporan Palestina menyebutkan para tahanan tersebut menghadapi kondisi sistematis berupa kelaparan dan pengabaian medis yang telah merenggut nyawa banyak narapidana.

Gencatan senjata yang berlangsung saat ini dimediasi oleh Mesir, Qatar, dan Turki di bawah naungan Amerika Serikat, setelah dua tahun perang yang menghancurkan 90% infrastruktur sipil Gaza dengan estimasi biaya pembangunan kembali mencapai 70 miliar dolar AS. (zarahamala/arrahmah.id)