Memuat...

Vokal Bersuara, Puluhan Dokter Inggris dan AS Dilarang 'Israel' Masuk Gaza

Zarah Amala
Kamis, 19 Februari 2026 / 2 Ramadan 1447 11:00
Vokal Bersuara, Puluhan Dokter Inggris dan AS Dilarang 'Israel' Masuk Gaza
'Israel' cekal tenaga medis asing masuk Gaza (QNN)

GAZA/LONDON – Sejumlah tenaga medis asal Inggris dan Amerika Serikat melaporkan bahwa otoritas 'Israel' secara sistematis menolak izin masuk mereka kembali ke Jalur Gaza. Para dokter ini meyakini pencekalan tersebut merupakan bentuk pembalasan karena mereka telah memberikan kesaksian publik mengenai genosida dan penderitaan warga sipil di wilayah tersebut.

Berdasarkan laporan The Guardian, para tenaga medis ini tidak diberikan alasan resmi atas penolakan tersebut. Namun, polanya menunjukkan bahwa mereka yang pernah memberikan kesaksian langsung di media internasional menjadi target utama pelarangan.

James Smith, seorang dokter darurat yang bekerja dengan organisasi nirlaba Medical Aid for Palestinians (MAP), mengaku ditolak masuk dua kali berturut-turut pada 2025 tanpa penjelasan. Ia berasumsi profil publiknya dan kritik politiknya terhadap 'Israel' menjadi pemicu utama.

"Bukan hanya karena saya berbicara kepada media, tetapi karena cara saya berbicara," ujar Smith. Ia menambahkan bahwa pedoman registrasi 'Israel' untuk LSM asing kini mencakup pertimbangan politik, termasuk apakah seseorang pernah menyerukan boikot terhadap negara 'Israel'.

Hal serupa dialami Khaled Dawas, seorang konsultan bedah asal London. Ia dilarang masuk pada Agustus dan November 2025 setelah melakukan perjalanan medis ke Gaza tahun sebelumnya. "Satu-satunya perbedaan antara saya dan kolega yang diizinkan masuk adalah mereka tidak bersuara selantang saya," tegas Dawas.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Agustus lalu menunjukkan tingkat penolakan terhadap tenaga kesehatan internasional melonjak hampir 50%. Sejak 18 Maret, setidaknya 102 orang telah dilarang masuk.

Thaer Ahmad, seorang dokter darurat dari Chicago sekaligus warga Amerika keturunan Palestina, telah ditolak masuk sebanyak empat kali, terakhir pada Januari 2026. Otoritas 'Israel' hanya memberikan alasan samar berupa "kekhawatiran keamanan".

Langkah ini bersamaan dengan perintah 'Israel' kepada puluhan organisasi internasional untuk menghentikan operasional mereka jika tidak memenuhi aturan baru, termasuk kewajiban membagikan detail staf mereka secara mendalam. Salah satu yang dicabut izin registrasinya adalah MAP, organisasi berbasis di Inggris yang selama enam bulan terakhir tidak dapat mengirimkan bantuan atau tenaga medis ke Gaza.

Steve Cutts, CEO MAP, menyebut tindakan ini sebagai "langkah yang disengaja" untuk menghalangi bantuan kemanusiaan dan membungkam saksi medis independen yang melihat langsung realitas di lapangan.

Menanggapi situasi ini, juru bicara Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri telah bertemu dengan tim medis yang dicekal. "Israel harus segera mencabut pembatasan dan membiarkan makanan, pasokan medis, serta bahan bakar menjangkau mereka yang sangat membutuhkan, sesuai dengan hukum humaniter internasional," ujar juru bicara tersebut.

Beberapa tenaga medis baru mengetahui penolakan izin mereka hanya 24 jam sebelum jadwal keberangkatan saat sudah berada di Yordania, sementara yang lain menerima penolakan saat masih berada di negara asal. (zarahamala/arrahmah.id)