Memuat...

Fitnah Hamas Sebagai Pelaku, Dubes 'Israel' untuk Inggris Bantah IDF Bunuh Warga Gaza

Hanoum
Rabu, 2 Juli 2025 / 7 Muharam 1447 04:06
Fitnah Hamas Sebagai Pelaku, Dubes 'Israel' untuk Inggris Bantah IDF Bunuh Warga Gaza
Duta Besar 'Israel' untuk Inggris Tzipi Hotovely dalam wawancara dengan jurnalis LBC, Andrew Marr. [Foto: Youtube]

GAZA (Arrahmah.id) -- Duta Besar 'Israel' untuk Inggris Tzipi Hotovely mengklaim bahwa negaranya tidak pernah membunuh warga sipil di Gaza, Palestina. Bahkan, Ia justru memfitnah kelompok perlawanan Palestina Hamas yang telah melakukan kekejian itu semua.

Dilansir LBC (1/7/2025), Hotovely menyatakan hal itu dalam wawancara dengan jurnalis LBC, Andrew Marr, saat membahas soal serangan kejam 'Israel' terhadap warga sipil di Gaza, Palestina yang sedang mencari makanan.

"Mengapa 'Israel' menggunakan drone, tank, dan artileri untuk membunuh 51 orang yang mencari makanan?," tanya jurnalis Inggris, Andrew Marr.

"Ketika kita menang perang Iran, ini adalah saat kita akan memiliki kesempatan besar untuk memiliki penyelamatan sempurna di Gaza. Karena ini adalah patron dari Hamas dan semua sistem proksi yang mereka bina selama bertahun-tahun di sekeliling 'Israel'," kata Dubes Israel di Inggris, Tzipi Hotovely.

"Saya menanyakan kepada Anda, mengapa Anda membunuh warganya?," tanya Marr.

"Tidak, kita tidak," jawab Hotovely dengan penuh percaya diri.

Mendengar jawaban itu, Marr dengan geram memaparkan bukti-bukti kekejaman 'Israel'. Alih-alih mengakui, Hotovely malah tetap ngotot negaranya tidak pernah membunuh warga sipil.

Parahnya, Hotovely justru memfitnah Hamas. Ia mengatakan bahwa Hamas lah yang membunuh warga sipil di Gaza Palestina.

"Ini adalah serangan keempat, dan yang terbesar," kata Marr.

"Kami tidak menembaki warga sipil, kami memastikan," ujar Hotovely kembali.

"Maaf, semua bukti menunjukkan Anda memang begitu. Adegan di rumah sakit, jenazah yang terpotong-potong, potongan-potongan tubuh anak-anak yang dibawa ke rumah sakit setelah mengantre untuk mendapatkan makanan," jelas Marr geram.

"Andrew, sekali lagi, Israel tidak pernah menargetkan anak-anak, warga sipil apa pun. Apa yang terjadi, Hamas adalah pihak yang menembaki orang-orang dan mencegahnya mendapatkan makanan, karena Hamas kehilangan kendali atas sistem bantuan," ujar Hotovely tak punya malu.

Marr pun kembali mengungkapkan fakta di depan Dubes 'Israel' untuk Inggris ini. Fakta-fakta yang telah diketahui oleh seluruh masyarakat di dunia. Terlebih dengan aksi kejam pasukan Zionis baru-baru ini yang menyerang warga sipil saat mengantre mendapatkan bantuan.

"Itu bukan yang dikatakan orang-orang di sana. Itu bukan yang dikatakan para penyelamat," tekan Marr.

"Pemandangan di dalam rumah sakit di Khan Younis benar-benar mengerikan. Dan orang-orang itu mengantre untuk mendapatkan makanan. Di titik distribusi makanan, saya tidak mengerti mengapa mereka diserang dengan pesawat nirawak dan tank," tutupnya.

Tzipi Hotovely lahir di Rehovot, Israel pada 2 Desember 1978. Dia saat ini menjabat sebagai Duta Besar 'Israel' untuk Inggris.

Dikutip dari berbagai sumber, Hotovely berasal dari keluarga Yahudi di Rehovot yang menerapkan ajaran Yahudi Ortodoks. Bahkan ia menyebut sosoknya sebagai "sayap kanan relijius".

Hotovely berhasil menyandang gelar doktoranda di Fakultas Hukum Universtias Tel Aviv.

Karier politiknya dimulai pada 2008 saat bergabung dengan partai sayap kanan 'Israel', Likud. Pada Pemilu 2009, ia berhasil memenangkan tempat ke-18 dalam daftar partai sekaligus lolos menjadi anggota Knesset (parlemen) 'Israel'.

Menariknya, ia tercatat sebagai anggota termuda. Selain itu ia juga sempat menjadi Komite Knesset untuk Perempuan dan Kesetaraan Gender di tahun 2011.

Pada tahun 2013, Hotovely diangkat sebagai Wakil Menteri Transportasi dan Keselamatan Jalan. Salah satu gebrakannya adalah menolak aspirasi negara Palestina dan mendukung Israel Raya mencakup seluruh wilayah Israel saat ini dengan wilayah Palestina.

Pada 2014, Tzipi Hotovely diangkat menjadi Wakil Menteri Sains dan Teknologi menggantikan Yaakov Peri yang berhenti. Setahun setelahnya, sang diplomat dipercaya untuk menjadi Wakil Menteri Luar Negeri.

Ia pun dilantik menjadi Duta Besar 'Israel' pada tahu 2020 menggantikan Mark Regev. Sosoknya yang dianggap penting sebagai petinggi partai sayap kanan membuat beberapa anggota senior komunitas Yahudi Inggris mengkritik penunjukannya sebagai Duta Besar.

Pada awal tahun 2024 lalu, muncul petisi dari masyarakat London yang mendesak agar diplomat zionis itu angkat kaki dari Inggris. Menurut laporan dari Anadolu Agency, faktor genosida di Gaza menjadi alasan kemarahan masyarakat Inggris.

Masyarakat membuat petisi di laman Change.org yang menyebut duta besar Israel tersebut kerap mengampanyekan genosida di Gaza.

"Duta besar saat ini menggunakan bahasa genosida secara terbuka dan menganjurkan untuk melakukan aksi genosida. Pembersihan etnis di Gaza dan Tepi Barat masih terus terjadi," tulis pernyataan petisi di laman Change.org.

Petisi itu menarik perhatian ratusan ribu orang yang mendukung kampanye tersebut dan setuju agar Tzipi diusir secepatnya dari tanah Britania Raya.

Setelah mencapai 100 ribu tanda tangan, petisi tersebut akan dipertimbangkan untuk dibahas dalam parlemen. (hanoum/arrahmah.id)