Memuat...

Gaza Balas Dendam! Unit Brutal 'Israel', Netzah Yehuda, Dihabisi Perlawanan di Beit Hanoun

Zarah Amala
Rabu, 9 Juli 2025 / 14 Muharam 1447 10:01
Gaza Balas Dendam! Unit Brutal 'Israel', Netzah Yehuda, Dihabisi Perlawanan di Beit Hanoun
Netzah Yehuda adalah unit kontroversial 'Israel' yang dikenal dengan kekejaman dan pelanggaran HAM (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Batalion paling kontroversial dalam militer 'Israel', Netzah Yehuda (Batalion ke-97), mengalami kekalahan telak dalam sebuah penyergapan besar-besaran yang dilakukan oleh Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, pada Senin (7/7/2025) di Beit Hanoun, Gaza utara.

Media 'Israel' melaporkan sedikitnya lima tentaranya tewas dan 14 lainnya terluka dalam operasi yang disebut-sebut sebagai salah satu serangan paling menghancurkan dalam sejarah batalion tersebut.

Menurut seorang komandan perlawanan yang dikutip Al Jazeera, pasukan Al-Qassam menanam beberapa alat peledak di jalur pergerakan musuh, lalu melepaskan tembakan ke arah tiga regu penyelamat 'Israel' yang datang berturut-turut, semuanya bagian dari batalion ultra-Ortodoks dan ultra-kanan Netzah Yehuda. Sebuah ledakan keempat dan tembakan senjata ringan kemudian menyasar para tentara yang selamat, menyebabkan korban dalam jumlah besar.

“Kami berjanji akan membongkar batalion kriminal ini jika terus melakukan kebiadaban,” ujar sumber Al-Qassam.

Di Telegram, Brigade Al-Qassam mempublikasikan pernyataan bergambar dengan ancaman yang gamblang: “Kami akan menghancurkan wibawa tentara kalian.”

Siapa Netzah Yehuda?

Didirikan pada 1999, Netzah Yehuda dikenal luas sebagai unit militer paling bermasalah dalam tubuh Tentara 'Israel'. Awalnya dibuat untuk mengakomodasi pemuda Haredi (Yahudi ultra-Ortodoks) agar bisa menjalani wajib militer tanpa meninggalkan gaya hidup religius mereka. Namun, dalam perjalanannya, batalion ini justru menjadi rumah bagi para ekstremis ideologis, termasuk kelompok pemukim radikal “Hilltop Youth” yang dikenal kejam terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Netzah Yehuda adalah unit yang bukan sekadar religius, tetapi ideologis dan fanatik. Di bawah Brigade Kfir (yang dijuluki “Infanteri Api”), batalion ini dilatih untuk pertempuran di Lebanon, Suriah, dan Gaza.

Meski telah menerima beberapa penghargaan dari militer 'Israel' karena “kreativitas operasional”, unit ini juga menuai kecaman internasional karena pelanggaran HAM dan kejahatan perang.

Rekam Jejak Kebrutalan

Antara 2015 hingga 2022, pasukan Netzah Yehuda terlibat dalam puluhan aksi kekerasan terhadap warga sipil Palestina. Tindakan mereka mencakup pembunuhan sewenang-wenang, pemukulan, penyiksaan, hingga kekerasan seksual.

Kasus yang paling mengejutkan terjadi pada 2022, ketika mereka menahan Omar As’ad, seorang warga Palestina-Amerika berusia 78 tahun. Ia ditemukan tewas dalam kondisi diborgol, ditutup matanya, dan ditinggalkan di suhu dingin ekstrim. Departemen Luar Negeri AS sempat menyelidiki kasus ini, dan beberapa tentara hanya mendapat hukuman administratif ringan, tanpa satu pun proses hukum dijalankan.

Akibat pelanggaran-pelanggaran itu, pemerintah AS mempertimbangkan menjatuhkan sanksi Leahy Law terhadap batalion ini, yang dapat memblokir bantuan, pelatihan, dan senjata AS ke unit yang terbukti melanggar HAM.

Netzah Yehuda di Gaza: Dari Tepi Barat ke Neraka Beit Hanoun

Sebelumnya, Netzah Yehuda beroperasi terutama di Tepi Barat. Namun setelah berbagai skandal, pada 2022 mereka dipindahkan ke Dataran Tinggi Golan. Baru pada awal 2024, batalion ini dikirim ke Gaza, untuk pertama kalinya.

Sejak saat itu, mereka ditempatkan di zona berisiko tinggi seperti Beit Hanoun. 'Israel' mengklaim unit ini berhasil menghancurkan peluncur roket dan terowongan Hamas. Namun kelompok perlawanan menyebut Netzah Yehuda terus melanjutkan pola kekerasan dan represinya terhadap warga sipil, bertindak seperti milisi pendudukan fanatik. “Kami telah menargetkan unit ini berkali-kali, ujar komandan Al-Qassam, merujuk pada serangkaian penyergapan berdarah sebelumnya, termasuk di wilayah pertanian dan rel kereta Gaza.

Serangan di Beit Hanoun pada 7 Juli 2025 adalah penyergapan ketiga terhadap Netzah Yehuda di Gaza utara tahun ini. Sejumlah analis militer di 'Israel' menyebutnya sebagai “hari tergelap bagi Netzah Yehuda”, dan bukti keterpurukan moral serta kesiapan militer 'Israel'.

Retaknya Wibawa 'Israel' dan Kegagalan Strategis

Usai serangan itu, sejumlah rumah sakit di selatan 'Israel' dilaporkan mengaktifkan status darurat karena lonjakan tentara yang terluka. Media Ibrani menggambarkan kondisi di Beit Hanoun sebagai "ladang api" dan "pukulan memalukan" bagi militer.

Lebih dari itu, insiden ini menggarisbawahi kegagalan total militer 'Israel' di Gaza. Setelah 641 hari genosida, dengan lebih dari 57.000 warga Palestina terbunuh, kemenangan militer yang dijanjikan masih belum terlihat.

Brigade Al-Qassam menutup pernyataannya dengan ancaman lugas: “Selama agresi kalian terus berlanjut, pemakaman kalian pun akan berlanjut.” (zzarahamala/arrahmah.id)