Memuat...

Gelombang Eksodus: Lebih dari 80 Ribu Warga 'Israel' Kabur di Tengah Krisis Politik dan Perang

Zarah Amala
Selasa, 25 November 2025 / 5 Jumadilakhir 1447 10:46
Gelombang Eksodus: Lebih dari 80 Ribu Warga 'Israel' Kabur di Tengah Krisis Politik dan Perang
Lebih dari 80.000 warga 'Israel' meninggalkan negara itu pada 2024, dan jumlah yang sama diperkirakan akan terjadi tahun ini. (Foto: tangkapan layar)

GAZA (Arrahmah.id) - Lebih dari 80.000 warga 'Israel' meninggalkan negara itu pada 2024, dengan angka serupa diperkirakan terjadi tahun ini, menurut Biro Pusat Statistik Israel, seperti dilaporkan The Washington Post.

Puluhan ribu warga 'Israel' telah meninggalkan negara itu selama dua tahun terakhir, di tengah demonstrasi besar-besaran menentang kebijakan pemerintah sayap kanan, bahkan sebelum serangan Hamas dan ofensif 'Israel' berikutnya di Gaza.

Para ahli memperkirakan bahwa gelombang kepergian ini dapat membawa dampak ekonomi, sosial, dan politik yang signifikan “selama beberapa dekade mendatang,” menurut laporan tersebut.

Surat kabar itu mencatat puluhan ribu warga 'Israel' pindah ke luar negeri dalam dua tahun terakhir, dengan lonjakan besar terjadi pada musim panas 2023, “di tengah protes besar-besaran” terhadap kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, bahkan sebelum 7 Oktober.

Banyak warga 'Israel' ingin beristirahat dari operasi militer yang tak henti-hentinya dan gejolak politik dalam negeri, dengan meningkatnya permintaan relokasi setelah perang dengan Iran, menurut Daphna Patishi-Pryluk, pendiri Settled.In, sebuah agensi yang membantu warga 'Israel' pindah ke luar negeri.

Tren Eksodus Meningkat Tajam

Laporan ini mengikuti sejumlah laporan lain yang memperingatkan tren eksodus yang tumbuh pesat. Dalam artikel berjudul “The Great Migration,” Jerusalem Post melaporkan tingkat migrasi tertinggi dalam sejarah pemukim 'Israel', menggambarkan eksodus ini sebagai yang belum pernah terjadi sejak pendudukan Palestina.

Menurut laporan itu, sekitar 40.600 warga 'Israel' meninggalkan negara tersebut hanya dalam tujuh bulan pertama pada 2023, peningkatan 59 persen dalam jumlah migran jangka panjang dibanding tahun sebelumnya.

Surat kabar 'Israel' itu menyebut kaum muda berusia 20–30-an tahun mencakup 40 persen dari mereka yang pergi, meskipun mereka hanya mewakili 27 persen populasi, memicu kekhawatiran tentang dampak demografis, ekonomi, dan pasar tenaga kerja jangka panjang bagi rezim pendudukan.

Seorang warga 'Israel' yang berencana pergi mengatakan kepada Washington Post, Berada hanya beberapa jam dari sirene, serangan teror, perang regional, rudal dari Iran, saudara-saudara kami di Gaza dan Lebanon… semua itu terlalu berat.”

Pria itu mengaku khawatir apakah negara sedang diarahkan ke jalur yang benar. Ia berkata, Saya perlu tahu bahwa semua penderitaan itu demi tujuan yang baik.”

Laporan tersebut menyatakan bahwa sekitar 200.000 warga 'Israel' kini tinggal di Eropa, banyak di antaranya telah memperoleh paspor kedua dari negara-negara Uni Eropa, termasuk Jerman, Polandia, Spanyol, dan Portugal. (zarahamala/arrahmah.id)