TEHERAN (Arrahmah.id) -- Pemerintah Iran memutus akses internet nasional di tengah meluasnya demonstrasi anti-pemerintah yang kini disertai aksi kekerasan, termasuk pembakaran sebuah kuil Syiah di kawasan Saadat Abad, Teheran.
Di saat bersamaan, Reza Pahlavi, putra mendiang Shah terakhir Iran, menyerukan massa demonstran untuk tidak lagi sekadar turun ke jalan, melainkan mulai merebut dan menguasai pusat-pusat kota di seluruh negeri.
Melalui pesan video dan unggahan di media sosial dari pengasingannya di Amerika Serikat, Reza Pahlavi pada Sabtu (10/1/2026) meminta warga Iran melanjutkan unjuk rasa besar-besaran yang telah meluas ke hampir 100 kota. Ia menegaskan bahwa gerakan protes yang dipicu krisis ekonomi tersebut telah memasuki fase baru.
“Tujuan kita bukan lagi sekadar turun ke jalan. Tujuannya adalah mempersiapkan diri untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” kata Pahlavi dalam pesan video yang dikutip AFP (10/1).
Pahlavi juga memuji demonstran yang tetap turun ke jalan meski menghadapi respons represif aparat keamanan. Ia mengajak warga yang masih ragu untuk bergabung serta menyerukan pemogokan nasional, khususnya di sektor-sektor strategis seperti transportasi, minyak, gas, dan energi, guna melumpuhkan sumber keuangan pemerintah.
Di tengah eskalasi protes, sebuah masjid dilaporkan dibakar demonstran di kawasan elite Saadat Abad, Teheran. Insiden ini menandai peningkatan ketegangan di lapangan dan memicu tudingan dari sejumlah pihak bahwa protes telah disusupi agenda tertentu. Jaringan diaspora Iran yang didukung pihak asing disebut-sebut mengeksploitasi kemarahan publik atas kondisi ekonomi, dengan menanamkan aktor-aktor mereka di tengah massa.
Pemerintah Iran merespons gelombang demonstrasi tersebut dengan memblokir akses internet di berbagai wilayah, langkah yang kerap diambil untuk membatasi koordinasi massa dan arus informasi. Bentrokan dalam rangkaian protes dilaporkan telah menewaskan hampir 40 orang dalam beberapa hari terakhir.
Dalam pernyataan terbarunya, Pahlavi kembali menegaskan niatnya untuk pulang ke Iran dan berdiri bersama para demonstran. Ia menyebut momen “kemenangan revolusi nasional” semakin dekat dan mendesak massa untuk mengklaim ruang-ruang publik serta mempertahankannya dari aparat negara. (hanoum/arrahmah.id)
