Memuat...

Gencatan Senjata di Atas Kertas, Jeda Perang Dipakai 'Israel' untuk Meratakan Gaza

Zarah Amala
Jumat, 14 November 2025 / 24 Jumadilawal 1447 11:02
Gencatan Senjata di Atas Kertas, Jeda Perang Dipakai 'Israel' untuk Meratakan Gaza
Peta yang menyoroti cakupan geografis operasi peledakan dan pembongkaran selama periode eskalasi Israel (Gambar: Plant+ Sened, milik Al-Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Meskipun telah memasuki bulan kedua, perjanjian gencatan senjata di Gaza gagal menghentikan penghancuran sistematis Jalur Gaza. Pasukan 'Israel' hanya mengubah taktik dari serangan udara besar-besaran menjadi penghancuran terencana menggunakan rekayasa teknis, sehingga memperparah krisis kemanusiaan yang kian memburuk akibat runtuhnya layanan kesehatan dan infrastruktur.

Sebuah investigasi oleh badan verifikasi berita Al Jazeera, “Sened”, yang didasarkan pada analisis citra satelit dari 10 hingga 30 Oktober, mengungkapkan bahwa militer 'Israel' tidak menghentikan kampanye penghancurannya, melainkan hanya mengganti metode serangannya setelah gencatan senjata diberlakukan.

Setelah perjanjian diberlakukan pada 10 Oktober, fokus operasi 'Israel' beralih dari serangan udara berat, yang memang mengalami sedikit penurunan, menjadi aktivitas peledakan dan pembongkaran terencana secara sistematis.

Data mencatat 103 operasi peledakan dan pembongkaran antara 10 hingga 30 Oktober, disertai 35 insiden serangan udara berat.

Mayoritas pembongkaran ini terkonsentrasi di Gaza bagian selatan, khususnya di wilayah timur Khan Yunis.

Penghancuran sistematis ini sebagian besar terjadi di dalam “Garis Kuning,” yaitu batas awal penarikan pasukan 'Israel'. Pola ini mengindikasikan adanya upaya taktis untuk membersihkan dan mengendalikan zona tersebut menggunakan unit-unit teknik militer, bukan kekuatan udara.

Serangan Udara 'Israel' di Beit Lahia dan Gaza City di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata

Pasukan pendudukan 'Israel' terlihat melakukan penggusuran lahan secara besar-besaran, menghancurkan rumah kaca pertanian, serta merobohkan bangunan-bangunan yang berada di depan Rumah Sakit Eropa (European Hospital), menegaskan bahwa insinyur militer, bukan angkatan udara, kini menjadi alat utama penghancuran.

Investigasi tersebut juga menghubungkan peningkatan serangan militer dengan dinamika politik.

Sebuah lonjakan tajam serangan udara berat dicatat di Gaza Utara menjelang pengumuman gencatan senjata (8–10 Oktober), untuk memperoleh keuntungan lapangan sebelum kesepakatan difinalisasi.

Kapal perang 'Israel' dilaporkan melepaskan tembakan di lepas pantai Rafah dan Khan Yunis. Selain itu, sebuah serangan udara dilakukan di dekat kawasan Pendidikan (Education area) di Beit Lahia utara, dan beberapa bangunan permukiman diledakkan menggunakan bahan peledak di timur Khan Yunis.

Pasukan pendudukan 'Israel' terus melanjutkan kampanye mereka terhadap Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), menghambat operasinya yang vital dan menggagalkan upaya membangun kembali kamp-kamp pengungsi serta memulihkan layanan-layanan penting.

Tindakan militer 'Israel' dan penghancuran infrastruktur telah mendorong layanan publik Gaza ke ambang kehancuran total.

Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina memperingatkan bahwa 80% suplai air Gaza kini terkontaminasi sepenuhnya. Kontaminasi ini memicu bencana kesehatan, dengan lebih dari 70.000 kasus hepatitis tercatat sejak awal genosida.

Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi 6.000 kasus amputasi yang memerlukan rehabilitasi segera dan jangka panjang. Anak-anak mencakup 25% dari jumlah tersebut, sementara perempuan 12,7%.

Seluruh Jalur Gaza masih tanpa listrik. Direktur Humas dan Media Perusahaan Distribusi Listrik Gaza memperkirakan bahwa perang telah menghancurkan lebih dari 80% jaringan distribusi, dengan kerugian awal infrastruktur mencapai sekitar USD 728 juta.

Kelanjutan operasi agresif dan sistematis ini, serta bencana kemanusiaan yang diakibatkannya, menegaskan rapuhnya gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat. Kondisi ini mengancam runtuhnya perjanjian secara total, di tengah munculnya peringatan internasional terhadap upaya pembagian Jalur Gaza dan laporan tentang rencana AS membangun pangkalan militer besar di wilayah tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)