Memuat...

Genosida Berbasis Gender: Setiap Jam, 'Israel' Bunuh Perempuan di Gaza

Zarah Amala
Kamis, 17 Juli 2025 / 22 Muharam 1447 09:45
Genosida Berbasis Gender: Setiap Jam, 'Israel' Bunuh Perempuan di Gaza
Genosida Berbasis Gender: Setiap Jam, 'Israel' Bunuh Perempuan di Gaza

GAZA (Arrahmah.id) - Lebih dari 20.000 perempuan dan anak perempuan Palestina telah terbunuh dalam genosida yang sedang berlangsung di Gaza, menurut laporan baru dari Euro-Med Human Rights Monitor. Jumlah ini setara dengan lebih dari satu perempuan atau anak perempuan tewas setiap jamnya sejak Oktober 2023.

Para korban ini bukan sekadar angka. Mereka adalah ibu, anak perempuan, dokter, guru, pekerja, pelajar, dan pemimpin. Masing-masing memiliki peran penting dalam menopang keluarga dan komunitas mereka.

Dari 42.620 anak yang kehilangan setidaknya satu orang tua, sekitar 6.500 kehilangan ibu mereka. “Ini luka yang tak akan pernah benar-benar sembuh bagi seorang anak,” tulis laporan tersebut.

Lebih dari 1 juta perempuan dan anak perempuan di Gaza telah mengalami pengungsian paksa. Di antara mereka, terdapat 150.000 ibu hamil dan ibu baru. Banyak dari mereka melahirkan di tenda, rumah yang dibom, atau sisa rumah sakit yang hancur, sering kali tanpa air bersih, tanpa tenaga medis, dan tanpa jaminan keselamatan.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa melahirkan di Gaza kini menjadi tindakan yang mengancam nyawa.

Lebih dari 80% fasilitas kesehatan di Gaza telah dihancurkan. Hanya lima rumah sakit yang masih menawarkan layanan kebidanan secara terbatas. Kini, satu dari tiga kehamilan dianggap berisiko tinggi, dan satu dari lima bayi lahir prematur atau dengan berat badan rendah.

Ribuan perempuan meninggal karena penyebab yang bisa dicegah, termasuk komplikasi saat melahirkan, infeksi, dan penyakit kronis yang tak tertangani, akibat blokade 'Israel' dan serangan berulang terhadap sistem kesehatan Gaza.

Sebagian besar kematian ini tidak tercatat dalam data resmi. Euro-Med menyebutnya sebagai “bagian tersembunyi dari genosida.” 

Lebih dari 95% ibu hamil dan menyusui menderita malnutrisi parah. Banyak keluarga berhari-hari tanpa makanan karena 'Israel' terus memblokir pasokan dasar, termasuk susu formula bayi. “Membiarkan janin dan bayi kelaparan bukanlah strategi militer. Itu adalah pemusnahan,” tegas laporan tersebut.

Kekerasan Berbasis Gender sebagai Senjata Perang

Di dalam penjara 'Israel', perempuan Palestina mengalami kekerasan seksual dan reproduktif. Laporan menyebut adanya pemerkosaan atau ancaman pemerkosaan, pemeriksaan tubuh yang invasif, tendangan ke alat kelamin, perabaan payudara, dan penolakan akses ke produk kebersihan menstruasi. Tahanan perempuan yang sedang hamil tidak diberi makanan dan perawatan medis.

Di luar penjara, bukti kekerasan terus muncul. Tentara 'Israel' dilaporkan menjarah rumah-rumah Palestina dan menghinakan perempuan. Ratusan foto dan video terverifikasi menunjukkan tentara memamerkan dan mengenakan pakaian dalam perempuan, menghancurkan barang pribadi, dan mengolok-olok jenazah serta para pengungsi. “Pelecehan ini mencemari hal-hal suci dalam budaya dan keyakinan kami,” ungkap laporan tersebut.

Euro-Med Monitor, bersama penyelidik PBB, menyimpulkan bahwa kekerasan ini bukan insiden acak. Kekerasan berbasis gender di Gaza digunakan sebagai senjata perang, strategi sistematis untuk menghancurkan, mempermalukan, dan menghapus eksistensi rakyat Palestina.

Tindakan ini memenuhi unsur genosida berdasarkan Statuta Roma, termasuk upaya mencegah kelahiran dan menciptakan kondisi yang menghancurkan kehidupan.

Anak-anak Amputasi Massal

Gaza kini menjadi wilayah dengan tingkat amputasi anak tertinggi di dunia. Antara 3.000 hingga 4.000 anak, banyak di antaranya perempuan, kehilangan anggota tubuh dalam serangan 'Israel'. Sedikitnya 10 anak menjadi amputan setiap harinya.

Anak-anak ini akan menanggung trauma seumur hidup, tanpa perawatan yang layak atau akses ke prostetik. Banyak yang tak bisa berjalan, bermain, bahkan tidur tanpa rasa sakit.

Laporan Euro-Med berakhir dengan peringatan tegas bahwa dunia tidak boleh diam terhadap penghancuran yang disengaja terhadap perempuan dan anak perempuan di Gaza. Penghapusan mereka bukan dampak sampingan. Ini adalah fitur utama dari apa yang disebut sebagai genosida berbasis gender. (zarahamala/arrahmah.id)