KOPENHAGEN (Arrahmah.id) - Harian Yedioth Ahronoth, media arus utama 'Israel', melaporkan pada Senin (8/7/2025) tentang kemunculan sebuah toko ritel daring asal Denmark bernama “Global Intifada” yang terang-terangan bersikap anti-'Israel'. Media itu menyebut toko ini sebagai bukti bahwa “sentimen anti-'Israel' telah merambah ke dunia mode dan fashion.”
Menurut laporan tersebut, toko ini menjual berbagai pakaian dengan pesan-pesan politik yang tegas. Di antaranya terdapat tulisan seperti “Zionis tidak diterima di sini”, serta desain-desain yang mengagungkan perlawanan Palestina, termasuk gambar juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Ubaida, serta simbol segitiga merah, ikon yang sering muncul dalam video-video serangan kelompok Al-Qassam terhadap pasukan pendudukan 'Israel' di Gaza.
Harian itu juga melaporkan bahwa hingga saat ini, baik otoritas 'Israel' maupun Eropa belum mengambil tindakan apa pun terhadap keberadaan toko tersebut. Mereka bahkan belum berhasil mengidentifikasi siapa pengelola situs toko ini yang beralamat di Netwalker13.org.
Gelombang Perlawanan dari Jalanan Eropa ke Dunia Fashion
Kemunculan “Global Intifada” terjadi di tengah meningkatnya kemarahan publik Eropa terhadap 'Israel', yang sejak 7 Oktober 2023 terus melancarkan agresi militer brutal di Jalur Gaza, yang banyak pihak, termasuk ahli hukum internasional, sebut sebagai genosida.
Setiap hari, unjuk rasa menentang pendudukan 'Israel' digelar di berbagai negara Eropa, seperti Prancis, Spanyol, Denmark, Swedia, Austria, Portugal, Jerman, dan banyak negara lainnya. Para demonstran menuntut dihentikannya pembantaian di Gaza, memutus pasokan senjata ke Tel Aviv, dan mendesak agar 'Israel' diadili di Mahkamah Internasional atas kejahatan kemanusiaan.
Dalam laporan yang sama, media 'Israel' menyampaikan kekhawatiran bahwa dukungan politik dan opini publik terhadap 'Israel' di negara-negara Eropa mulai mengalami penurunan tajam. (zarahamala/arrahmah.id)
