GAZA (Arrahmah.id) - Pemerintah 'Israel' memutuskan tidak membuka kembali perlintasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir pada Rabu (15/10/2025), sebagai bentuk tekanan terhadap Hamas yang dianggap gagal menyerahkan seluruh jenazah tawanan 'Israel' yang tewas selama perang di Gaza, menurut laporan berbagai media 'Israel'.
Channel 13 Israel melaporkan bahwa kepemimpinan politik 'Israel' memutuskan untuk tetap menutup perlintasan dan mengurangi secara drastis bantuan kemanusiaan ke Gaza, sesuai rekomendasi dari lembaga keamanan.
Saluran Penyiaran 'Israel' juga menyebut bahwa pejabat keamanan meminta pemerintah menghentikan seluruh masuknya bantuan dan menunda pembukaan Rafah sampai seluruh jenazah tawanan 'Israel' dikembalikan.
Empat Jenazah Diserahkan
Surat kabar Maariv mengutip seorang pejabat keamanan yang mengatakan bahwa “perjanjian antara perlawanan dan pendudukan tidak menetapkan jumlah pasti warga 'Israel' yang diculik dan tewas yang akan diserahkan pada Senin.”
Pejabat itu menambahkan bahwa Hamas telah menyerahkan empat jenazah kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) “sesuai dengan kesepakatan.”
Menurut Haaretz, pihak 'Israel' sebelumnya memperkirakan proses pengembalian jenazah akan memakan waktu beberapa pekan, namun tidak menyangka bahwa hanya empat jenazah yang akan diserahkan pada tahap pertama.
Militer 'Israel' mengklaim Hamas masih memiliki informasi tentang banyak tawanan yang sudah meninggal, sementara pemerintah belum menjelaskan apakah keterlambatan ini merupakan pelanggaran perjanjian atau sekadar hambatan teknis.
Yedioth Ahronoth mengutip sumber politik anonim yang memperingatkan bahwa kegagalan mengembalikan sisa jenazah “dapat menggagalkan perjanjian.” Ia menambahkan bahwa belum ada keputusan akhir apakah keterlambatan itu melanggar kesepakatan, namun “penyerahan jenazah mungkin membutuhkan sedikit waktu lebih lama.”
Sementara itu, CNN melaporkan bahwa keluarga para tawanan 'Israel' mengirim surat kepada utusan AS Steve Witkoff, mendesaknya agar bertindak cepat untuk memastikan semua jenazah dikembalikan.
Berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, perlawanan Palestina diharapkan mengembalikan 28 jenazah tawanan 'Israel' sebagai imbalan atas penyerahan jenazah warga Palestina dari Gaza yang tewas dalam serangan 'Israel'.
Palang Merah: “Tantangan Besar”
ICRC mengatakan bahwa pemulihan dan identifikasi jenazah merupakan aspek paling rumit dalam kesepakatan gencatan senjata ini.
Juru bicara Christian Cardon menyebut bahwa “mengembalikan jenazah para tawanan dan tahanan yang tewas dalam perang akan memakan waktu dan menjadi tantangan besar,” mengingat kerusakan masif di seluruh Gaza yang membuat upaya pencarian sangat sulit.
Ia juga mengakui adanya kemungkinan bahwa beberapa jenazah tidak akan pernah ditemukan, menyebut hal ini sebagai “tantangan yang bahkan lebih berat dibanding membebaskan yang masih hidup.”
Pada Selasa (14/10), ICRC mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima 45 jenazah tahanan Palestina dari Israel, yang kemudian dipindahkan melalui perlintasan Kissufim ke Gaza sebagai bagian dari tahap pertama pertukaran jenazah dan gencatan senjata.
Otoritas kesehatan Gaza mengatakan kepada Reuters bahwa gelombang pertama jenazah tiba di Kompleks Medis Nasser di Khan Yunis, di mana dilakukan pemeriksaan dan pendokumentasian sebelum diserahkan kepada keluarga.
Palang Merah kembali menyerukan kepada semua pihak dan mediator agar menjamin pelaksanaan penuh perjanjian gencatan senjata serta memfasilitasi pengembalian jenazah secara bermartabat kepada keluarga mereka. (zarahamala/arrahmah.id)
