GAZA (Arrahmah.id) -- Kelompok perlawanan Palestina Hamas, pada Senin (13/10/2025), menuduh rezim 'Israel' mempermainkan daftar tahanan Palestina dan menghindari pelaksanaan ketentuan perjanjian gencatan senjata, meskipun sebelumnya telah berkomitmen kepada para mediator internasional.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, seperti dilansir IRNA (13/10), anggota biro politik Hamas, Ghazi Hamad memperingatkan bahwa rezim 'Israel' menunjukkan perilaku yang sama seperti para mediator internasional, termasuk Amerika Serikat.
Mengacu pada pertemuan yang akan datang di Sharm el-Sheikh, Hamad menyatakan bahwa Hamas berharap forum tersebut akan memastikan pelaksanaan perjanjian sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati.
Hamad menekankan bahwa Israel telah memanipulasi daftar tahanan dan mencoba menghapus beberapa nama yang seharusnya dibebaskan. Tindakan ini disebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap perjanjian yang dibuat melalui mediasi internasional.
Dia juga memperingatkan bahwa kabinet kepala otoritas 'Israel', Benjamin Netanyahu, terus mengancam akan melanjutkan perang melawan Gaza.
Oleh karena itu, pihaknya menyerukan tekanan komunitas internasional dan negara-negara Arab untuk mencegah 'Israel' kembali menyerang Gaza dan memaksa rezim tersebut melaksanakan isi perjanjian.
Lebih lanjut, anggota Hamas itu turut menekankan bahwa jaminan internasional yang sah diperlukan guna menegakkan gencatan senjata secara menyeluruh serta membuka jalan untuk diakhirinya pendudukan dan pemenuhan hak-hak sah bangsa Palestina.
Terkait pelaksanaan perjanjian gencatan senjata, Hamad menuturkan bahwa perbedaan utama yang masih terjadi saat ini berkaitan dengan manipulasi daftar tahanan oleh 'Israel'.
“Rezim 'Israel' bahkan tidak jujur kepada para mediator, termasuk Amerika,” tegasnya.
Hamas, dengan koordinasi penuh dengan mediator dari Mesir, Qatar, Turki, dan Komite Palang Merah Internasional, untuk memastikan pelaksanaan perjanjian secara tepat, yang mencakup pertukaran tahanan, penghentian agresi, dan penarikan militer 'Israel' dari Gaza.
Rezim 'Israel' memulai perang terhadap Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023 dengan dua tujuan utama, yakni menghancurkan Hamas dan membebaskan para tahanan 'Israel' yang berada di wilayah tersebut.
Namun, 'Israel' gagal mencapai kedua tujuan tersebut dan terpaksa untuk menyetujui kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas.
Adapun pada 9 Oktober, Hamas secara resmi mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza dan melakukan pertukaran tahanan. Militer 'Israel' pun secara resmi mengumumkan penerapan gencatan senjata. (hanoum/arrahmah.id)
