GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Islam Hamas menyatakan keterkejutannya atas komentar utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang menyebut Hamas tidak menunjukkan itikad baik dalam merespons proposal terbaru para mediator terkait gencatan senjata di Gaza. Hamas menegaskan bahwa sikap mereka justru membuka jalan menuju kesepakatan menyeluruh.
Dalam pernyataan yang dirilis Kamis malam (24/7/2025), Hamas mengatakan bahwa sejak awal proses negosiasi, mereka telah bersikap bertanggung jawab, fleksibel, dan berkomitmen untuk mencapai kesepakatan yang menghentikan agresi dan mengakhiri penderitaan rakyat Palestina di Gaza.
Mereka menyampaikan bahwa tanggapan terbaru mereka diberikan setelah konsultasi luas dengan faksi-faksi Palestina, para mediator, dan negara-negara sahabat. Hamas mengklaim telah menyambut baik berbagai catatan yang diajukan dan menunjukkan komitmen serius terhadap keberhasilan upaya mediasi.
Terkait komentar Witkoff, Hamas menilai pernyataan itu negatif dan tidak mencerminkan kenyataan, terlebih para mediator justru menyambut baik sikap Hamas yang dianggap positif dan konstruktif.
Tuduhan dari Witkoff
Sebelumnya, Steve Witkoff menuduh Hamas tidak bertindak dengan itikad baik, menyebut mereka “bersikap egois” meski mediator telah berusaha keras. Witkoff mengumumkan bahwa AS akan menarik timnya dari Doha untuk konsultasi internal, dan mempertimbangkan "opsi alternatif" untuk membebaskan sandera 'Israel' dan menciptakan “stabilitas” di Gaza.
Meski demikian, laporan menyebutkan bahwa langkah AS dan 'Israel' menarik tim dari Doha bisa jadi hanya taktik negosiasi. Dua sumber yang dekat dengan proses tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa penarikan tim 'Israel' tidak serta merta menandakan kegagalan pembicaraan.
Proses Negosiasi Masih Terbuka
Surat kabar New York Times mengutip sejumlah pejabat dari berbagai negara yang meyakini bahwa “penarikan AS dan 'Israel' dari pembicaraan mungkin bersifat taktis”.
'Israel' sebelumnya menyatakan telah menerima respons Hamas dan akan mempelajarinya. Seorang pejabat senior Hamas kepada Reuters menegaskan bahwa peluang untuk mencapai kesepakatan masih terbuka, meski bisa memakan waktu beberapa hari karena apa yang ia sebut sebagai "penguluran waktu dari pihak 'Israel'."
Sejak 6 Juli lalu, putaran terbaru negosiasi tidak langsung antara Hamas dan 'Israel' digelar di Doha, dengan mediasi Qatar dan Mesir serta dukungan AS. Proposal yang dibahas mencakup gencatan senjata selama 60 hari, pertukaran tahanan, dan perundingan menuju penghentian perang secara menyeluruh.
Namun, masih ada perbedaan tajam antara kedua pihak, terutama soal sejauh mana pasukan 'Israel' akan ditarik dari Gaza dan jumlah serta profil tahanan Palestina yang akan dibebaskan. (zarahamala/arrahmah.id)
