Memuat...

'Israel' Bombardir Kamp Pengungsian di Gaza, Ayah dan Dua Anak Tewas dalam Pelanggaran Baru Gencatan Senjata

Zarah Amala
Jumat, 5 Desember 2025 / 15 Jumadilakhir 1447 08:45
'Israel' Bombardir Kamp Pengungsian di Gaza, Ayah dan Dua Anak Tewas dalam Pelanggaran Baru Gencatan Senjata
Militer 'Israel' membunuh seorang ayah dan dua anaknya dalam serangan mematikan di kamp tenda (QNN)

GAZA (Arrahmah.id) - Tentara 'Israel' pada Rabu malam (3/12/2025) menewaskan seorang ayah dan dua anaknya dalam serangan mematikan yang menghantam kamp tenda pengungsian yang menampung ratusan keluarga di Gaza selatan, kembali mencatat pelanggaran baru terhadap perjanjian gencatan senjata.

Serangan yang mengenai kamp pengungsian di Khan Yunis itu menewaskan Fathi Abu Hassanin serta dua putranya, Bilal (8) dan Mohamed (10), menjadi tiga dari total lima korban jiwa. Serangan tersebut juga memicu kebakaran besar yang melalap sejumlah tenda.

“Lima warga, termasuk dua anak, terbunuh dan lainnya terluka, sebagian dalam kondisi serius, akibat serangan rudal 'Israel' di Al-Mawasi,” kata juru bicara pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal.

Menurut saksi lokal, beberapa korban mengalami luka bakar parah.

Basal menegaskan bahwa para korban tidak berada di zona pertempuran, melainkan di kamp pengungsian di wilayah yang sebelumnya ditetapkan 'Israel' sebagai “zona aman”.

Ia menyebut serangan itu sebagai “penargetan sistematis dan langsung terhadap warga sipil,” dan menekankan bahwa insiden tersebut “bukan serangan terisolasi, melainkan bab lain dari bencana kemanusiaan yang terus berlangsung.”

“Dia hanya anak kecil”

Kerabat keluarga Abu Hassanin menggambarkan suasana memilukan pasca-serangan.

“Seorang anak terbunuh; seorang anak,” kata sang kerabat kepada seorang jurnalis lokal. “Bilal Fathi Abu Hussein. Dia hanya anak kecil, masih sekolah. Mereka adalah anak-anak, beri tahu Netanyahu bahwa sasarannya salah; kalian membunuh anak-anak.”

Ia menambahkan bahwa seluruh keluarga sedang tidur ketika serangan terjadi. “Kami semua di kamp terbangun oleh tragedi ini. Ada 32 yang terluka, semuanya anak-anak. Semua tetangga kami terluka.”

Bilal tewas, meninggalkan tas sekolah dan semua mimpinya.

Jihad Samir al-Arja, saksi lain, mengatakan kepada Reuters bahwa api tiba-tiba menyala dan menyebar cepat di area tenda.

“Orang-orang, anak-anak dan perempuan tergeletak dalam potongan-potongan tubuh,” ujarnya. “Semua orang berusaha memadamkan api, termasuk tabung gas dan tenda yang ikut terbakar.”

Al-Arja, 35, mempertanyakan apa arti gencatan senjata yang seharusnya memberi rasa aman.

“Di mana para mediator? Di mana pihak yang mengupayakan gencatan senjata? Kami tidak melihat adanya gencatan senjata,” katanya. “Setiap pekan ada serangan, pembunuhan, pengeboman, penargetan bangunan. Tidak ada gencatan senjata sama sekali.”

Serangan terbaru ini menambah daftar panjang pelanggaran yang dilakukan 'Israel' sejak gencatan senjata mulai berlaku pada awal Oktober. Otoritas Gaza mencatat setidaknya 591 pelanggaran, yang menewaskan 360 warga Palestina dan melukai 922 lainnya.

Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 70.100 warga Palestina tewas dalam agresi 'Israel' di Gaza. Di antara mereka terdapat lebih dari 10.000 perempuan dan 20.000 anak-anak.

Pada pekan yang sama, dua bersaudara di Khan Yunis, Fadi (8) dan Jumaa (10), juga tewas setelah diserang drone 'Israel' saat mencari kayu bakar. Ayah mereka dilaporkan lumpuh dan menggunakan kursi roda. Militer 'Israel' mengklaim kedua anak itu “membahayakan” dan karena itu “dieliminasi”. (zarahamala/arrahmah.id)