TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' memperingatkan keluarga-keluarga Palestina yang menunggu pembebasan kerabat mereka agar tidak merayakan secara terbuka atau mengibarkan bendera Palestina, saat tahap pertama kesepakatan pertukaran tahanan bersejarah dengan Hamas dimulai pada Senin (13/10/2025).
Kerumunan besar warga Palestina berkumpul menyambut para tahanan yang dibawa dengan bus dari Penjara Ofer menuju Ramallah, Tepi Barat yang diduduki. Namun, pasukan 'Israel' menembakkan gas air mata dan peluru karet ke arah massa yang berkumpul di dekat fasilitas penahanan tersebut.
Drone-drone 'Israel' tampak berputar di udara, sementara warga Palestina membagikan gambar selebaran ancaman dari pasukan Israel yang memperingatkan bahwa siapa pun yang merayakan pembebasan para tahanan bisa ditangkap.
Peristiwa ini terjadi setelah 13 tawanan 'Israel' yang ditahan Hamas dibebaskan sesuai kesepakatan gencatan senjata, sementara hampir 2.000 tahanan Palestina dijadwalkan dibebaskan, termasuk 1.718 orang yang ditangkap dari Gaza.
Ancaman Deportasi dan Pengawasan Keluarga
Keluarga-keluarga Palestina menunggu dengan cemas, mengingat 'Israel' sebelumnya kerap mendeportasi para tahanan yang dibebaskan agar mereka tidak bisa kembali ke rumah dan keluarganya.
Charlottee Kates, koordinator internasional kelompok solidaritas tahanan Palestina Samidoun, mengatakan kepada The New Arab bahwa 'Israel' “memiliki sejarah panjang mengintimidasi keluarga para tahanan sebelum dan sesudah pembebasan.”
“Sayangnya, ini bukan pengecualian, ini sudah menjadi praktik standar pendudukan terhadap rakyat Palestina,” ujarnya.
“Mereka merobohkan rumah keluarga para pejuang yang dipenjara, menculik orang tua dan saudara dari para aktivis, bahkan menyerang perayaan keluarga dengan gas air mata dan senjata api.”
Menurut laporan pada Senin (13/10), lebih dari 100 tahanan akan diasingkan, membuat banyak di antara mereka tidak akan pernah bisa bertemu keluarga lagi kecuali dalam kasus langka ketika 'Israel' mengizinkan reuni di luar wilayah pendudukan.
Penggerebekan dan Penangkapan Ulang
Menjelang pembebasan massal itu, 'Israel' melakukan penggerebekan besar-besaran terhadap rumah-rumah keluarga tahanan di Ramallah, Nablus, Tulkarem, dan Qalqilya pada Ahad pagi (12/10), menjarah rumah dan melecehkan anggota keluarga.
'Israel' juga memiliki catatan panjang menangkap ulang para tahanan yang sebelumnya dibebaskan.
Pada Mei lalu, pasukan 'Israel' menangkap setidaknya tujuh warga Palestina yang sebelumnya dilepaskan dalam kesepakatan pertukaran, dan membawa mereka ke lokasi yang dirahasiakan. Sebelumnya, 13 orang lainnya juga ditangkap kembali tanpa dakwaan di bawah status penahanan administratif, yang memungkinkan 'Israel' menahan seseorang tanpa pengadilan untuk waktu tak terbatas.
Tidak ada hukum 'Israel' yang mencegah pemerintah melakukan penahanan ulang terhadap mereka yang telah dibebaskan.
Perbedaan Perlakuan antara Palestina dan 'Israel'
Warga Palestina menyoroti perbedaan mencolok antara kondisi para tahanan Palestina dan tawanan 'Israel' yang baru dibebaskan dari Gaza. Banyak tahanan Palestina tampak jauh lebih kurus dan lemah, sedangkan tawanan 'Israel' yang dibebaskan terlihat sehat dan dirawat dengan baik
“Pendudukan 'Israel' menolak penyambutan terhormat bagi tawanan mereka sendiri, tetapi justru menyiksa, memukuli, dan menelantarkan tahanan Palestina agar menderita, semata untuk menghukum mereka karena telah dibebaskan,” jelas Kates.
“Hal ini menunjukkan mengapa pembebasan para tahanan menjadi prioritas tinggi bagi perlawanan Palestina.”
Sebelumnya pada Senin (13/10), orang tua dari salah satu tawanan 'Israel' yang dibebaskan dari Gaza, Alon Ohel, mengatakan kepada wartawan bahwa putra mereka “tampak luar biasa” setelah bertemu dengannya di 'Israel' selatan. (zarahamala/arrahmah.id)
