Memuat...

'Israel' Luncurkan Latihan Militer Besar-besaran di Tepi Barat dan Lembah Yordan yang Diduduki

Zarah Amala
Selasa, 11 November 2025 / 21 Jumadilawal 1447 11:15
'Israel' Luncurkan Latihan Militer Besar-besaran di Tepi Barat dan Lembah Yordan yang Diduduki
'Israel' menggelar latihan militer di Lembah Yordan. (Foto: Flickr, via Wikimedia Commons)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' memulai latihan militer berskala besar pada Senin (10/11/2025), yang dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dan mencakup wilayah luas Tepi Barat yang diduduki, Lembah Yordan, serta perbatasan dengan Yordania, lansir Al-Jazeera.

Latihan ini digambarkan sebagai upaya untuk “menarik pelajaran operasional” dari peristiwa 7 Oktober 2023 dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi “skenario eskalasi potensial,” termasuk operasi bersenjata atau infiltrasi yang berasal dari Tepi Barat dan menargetkan permukiman atau pos militer 'Israel'.

Kegiatan ini melibatkan dua divisi penuh, unit-unit Angkatan Udara 'Israel', Badan Keamanan Umum (Shin Bet), serta kepolisian 'Israel'. Jalan-jalan lokal dan daerah sekitarnya diperkirakan akan mengalami pergerakan militer yang tidak biasa, termasuk kendaraan lapis baja dan aktivitas helikopter.

Latihan mencakup koordinasi antara unit darat dan udara, operasi berbagi intelijen, serta simulasi penyebaran cepat. Menurut militer 'Israel', latihan dimulai pada “pagi hari” dan akan berlangsung di seluruh Tepi Barat yang diduduki serta Lembah Yordan.

Latihan ini berlangsung di tengah meningkatnya operasi militer, serangan, dan bentrokan bersenjata di Tepi Barat selama setahun terakhir, seiring dengan konflik yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Komunitas Palestina melaporkan serangan harian, pembongkaran rumah, penutupan jalan, dan kampanye penahanan.

Menurut data Palestina, sejak Oktober 2023, pasukan 'Israel' dan pemukim telah menewaskan setidaknya 1.069 warga Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, serta melukai sekitar 10.000 lainnya. Lebih dari 20.000 warga Palestina ditahan, termasuk sekitar 1.600 anak-anak, dengan laporan meluas mengenai pemukulan, penghinaan, dan pelanggaran hak hukum.

Di Gaza, meskipun gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober antara 'Israel' dan Hamas, pasukan Israel terus melakukan pelanggaran, termasuk serangan udara, tembakan artileri, dan tembakan sniper, yang menimbulkan korban tambahan dan pemindahan penduduk.

Konflik di Gaza telah menewaskan lebih dari 69.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 170.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak. Infrastruktur publik, rumah, sekolah, dan rumah sakit hancur total. PBB memperkirakan rekonstruksi akan membutuhkan setidaknya $70 miliar dan bisa memakan waktu puluhan tahun jika kondisi saat ini tidak membaik. (zarahamala/arrahmah.id)