TEL AVIV (Arrahmah.id) - Pemerintah 'Israel' menegaskan pada Ahad (9/11/2025) bahwa tidak akan ada tentara Turki yang ditempatkan di Jalur Gaza sebagai bagian dari pasukan multinasional yang direncanakan menggantikan tentara 'Israel', menurut rencana perdamaian yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua tahun.
Juru bicara pemerintah 'Israel', Shosh Pedrosian, mengatakan kepada wartawan, “Tidak akan ada tentara Turki di lapangan.”
Rencana Trump tersebut mencakup pembentukan pasukan internasional sementara yang bertugas menstabilkan Jalur Gaza dan secara bertahap mengambil alih tanggung jawab keamanan serta administrasi setelah penarikan pasukan 'Israel'. Namun, hingga kini pasukan itu belum terbentuk, sementara sejumlah negara menuntut agar mendapat mandat resmi dari Dewan Keamanan PBB sebelum dilaksanakan.
Pernyataan terbaru dari 'Israel' ini bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dari Duta Besar AS untuk Turki, Tom Barak, yang pada awal bulan lalu dalam konferensi keamanan di Manama mengatakan bahwa Turki akan ikut serta dalam misi internasional di Gaza, menanggapi pertanyaan mengenai keberatan 'Israel' atas kehadiran pasukan Turki di wilayah tersebut.
Selain itu, Wakil Presiden AS J.D. Vance pada bulan lalu menyebut bahwa Ankara dapat memainkan “peran konstruktif” dalam fase pascaperang, namun menegaskan bahwa Washington tidak akan memaksakan kehadiran militer asing di wilayah yang dikuasai 'Israel'.
Sementara itu, pembicaraan antara AS dan sekutunya masih berlangsung untuk merumuskan kerangka hukum dan politik pembentukan pasukan internasional tersebut. Perbedaan pandangan masih terjadi mengenai komposisi, mandat, dan wilayah operasi pasukan, terutama karena keberatan 'Israel' terhadap peran langsung Turki di dalam Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
