GAZA (Arrahmah.id) - Pemerintah 'Israel' mengumumkan pada Ahad (9/11/2025) bahwa mereka telah menerima jenazah seorang tentara 'Israel' dari Komite Internasional Palang Merah (ICRC).
Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Palestina Hamas, mengonfirmasi bahwa jenazah tersebut adalah milik perwira 'Israel' Hadar Goldin, yang telah ditawan sejak 2014.
Kantor Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, menyampaikan bahwa jenazah itu sedang dipindahkan ke 'Israel' untuk menjalani prosedur forensik standar guna memastikan identitasnya, termasuk uji DNA di Institut Kedokteran Forensik.
Menurut Al-Qassam, penyerahan jenazah itu dilakukan dalam kerangka perjanjian pertukaran tahanan Operasi Banjir Al-Aqsa. Mereka menjelaskan bahwa jenazah Goldin ditemukan di sebuah terowongan di Rafah, wilayah selatan Jalur Gaza.
Gerakan tersebut menekankan bahwa penyerahan dilakukan dalam kondisi yang sangat sulit pada tahap sebelumnya dari pertempuran, dan menambahkan bahwa pencarian jenazah lainnya akan membutuhkan tim khusus dan peralatan tambahan karena kerusakan besar akibat serangan militer 'Israel'.
Goldin, yang saat itu berusia 23 tahun, tewas pada awal Agustus 2014 dalam operasi Protective Edge. Jenazahnya dibawa oleh Al-Qassam selama gencatan senjata 72 jam, sebagaimana dilaporkan oleh Otoritas Penyiaran 'Israel'. Selama 11 tahun, 'Israel' gagal menemukan jasadnya.
Sejak fase pertama gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober, faksi-faksi perlawanan Palestina telah menyerahkan 20 tawanan 'Israel' yang masih hidup serta 25 jenazah, dari total 28 yang dijanjikan.
Namun pihak 'Israel' mengklaim bahwa salah satu jenazah yang mereka terima bukan milik warganya, sementara satu set sisa jenazah lainnya bukan penemuan baru, karena sebelumnya sudah dikembalikan.
'Israel' kini mengaitkan dimulainya negosiasi fase kedua perjanjian dengan pemulangan seluruh jenazah yang tersisa. Hamas menegaskan bahwa proses tersebut akan memakan waktu karena kehancuran luas di Jalur Gaza.
Sementara itu, menurut Kantor Media Pemerintah di Gaza, sekitar 9.500 warga Palestina yang tewas akibat serangan 'Israel' masih terjebak di bawah reruntuhan.
Lebih dari 10.000 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, masih ditahan di penjara 'Israel'. Mereka menghadapi penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian medis. Sejumlah organisasi HAM, baik Palestina maupun 'Israel', telah mendokumentasikan kasus kematian di dalam tahanan. (zarahamala/arrahmah.id)
