GAZA (Arrahmah.id) -- Terus diabaikannya gencatan senjata oleh 'Israel' membuat Hamas menyatakan pelanggaran-pelanggaran itu bisa membatalkan gencatan.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem menegaskan bahwa kehadiran delegasinya di Kairo pada Ahad (23/11/2025) menunjukkan keseriusan gerakan tersebut dalam bekerja sama dengan mediator untuk menuju tahap kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza.
“Tahap kedua dari perjanjian ini rumit, dan kami telah melakukan apa yang diminta dari kami, sementara 'Israel' terus melakukan pelanggaran demi pelanggarannya,” kata Qassem dalam pernyataan pers dilansir Palestine Chronicle (25/11).
Dia memperingatkan bahwa pelanggaran yang terus dilakukan 'Israel' dapat merusak perjanjian gencatan senjata. “Ini sebuah poin yang disampaikan dengan jelas oleh gerakan kepada para mediator dalam perundingan di Kairo.”
Qassem menekankan bahwa “tugas pasukan internasional harus mencakup perlindungan orang-orang yang tidak bersenjata dari tentara penjajahan, yang terus melakukan agresi tanpa henti.”
Pada Senin, pasukan 'Israel' telah membunuh sedikitnya empat warga Palestina dan melukai beberapa lainnya di seluruh Gaza selepas diumumkannya gencatan senjata enam minggu enam pekan lalu.
Pada Senin, pasukan 'Israel' menyerang beberapa lokasi di Gaza meskipun ada perjanjian gencatan senjata. Di Gaza utara, serangan udara dan tembakan artileri Israel menghantam Beit Lahiya di luar garis kuning yang membatasi wilayah di bawah kendali militer Israel.
Di selatan, serangan udara 'Israel' dan tembakan dari tank dan helikopter dilaporkan terjadi di timur laut Kota Rafah, serta serangan udara dan tembakan artileri di luar garis kuning di selatan dan timur Khan Younis.
Korban pada Senin termasuk seorang pria Palestina yang syahid dalam serangan pesawat tak berawak di kota selatan Bani Suheila, di daerah yang dikuasai pasukan 'Israel' di luar apa yang disebut “garis kuning”.
Secara terpisah, seorang anak Palestina juga terbunuh di bagian utara Kota Gaza ketika persenjataan yang ditinggalkan oleh pasukan 'Israel' diledakkan, berdasarkan perlindungan sipil wilayah tersebut. Kelompok itu mengatakan beberapa anak lagi terluka, dan beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Koresponden Al Jazeera melaporkan dari Gaza, bahwa serangan 'Israel' juga terus berlanjut sepanjang hari, dengan serangan artileri, serangan udara, dan serangan helikopter dilaporkan terjadi di bagian utara dan selatan wilayah kantong tersebut.
Di Beit Lahiya, tembakan 'Israel' menghantam wilayah di luar garis kuning. Di selatan, tank dan helikopter menargetkan wilayah timur laut Rafah dan pinggiran Khan Younis. “Ada serangan besar-besaran 'Israel' di luar garis kuning yang menyebabkan kehancuran sistematis di lingkungan timur Gaza,” kata Al Jazeera.
Koresponden WAFA melaporkan bahwa pasukan 'Israel' terus melakukan penembakan artileri di Gaza selatan dan meledakkan kendaraan bermuatan bahan peledak di lingkungan al-Tuffah di timur Gaza, yang merupakan pelanggaran berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata.
Tentara 'Israel' juga melancarkan serangan udara dan melepaskan tembakan dari tank dan helikopter di timur laut Rafah. Sejak perjanjian gencatan senjata pada 11 Oktober 2025, jumlah korban tewas di Jalur Gaza meningkat menjadi 346 orang, lebih dari 871 orang terluka, dan 574 jenazah berhasil ditemukan.
Kantor berita WAFA melansir, tim penyelamat menemukan delapan jenazah warga Palestina dari bawah reruntuhan rumah yang sebelumnya dihantam oleh pasukan Israel di kamp pengungsi Maghazi di Jalur Gaza tengah. Delapan jenazah warga Palestina dari keluarga Abu Hamda ditemukan dari bawah reruntuhan rumah yang mereka targetkan.
Israel telah melanggar gencatan senjata Gaza yang ditengahi Amerika Serikat setidaknya 500 kali dalam 44 hari, menewaskan ratusan warga Palestina sejak gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober. Sekitar 342 warga sipil syahid dalam serangan tersebut, dengan anak-anak, perempuan dan orang lanjut usia menjadi korban terbanyak. (hanoum/arrahmah.id)
