Memuat...

Jenderal ‘Israel’ Peringatkan: Tanpa Kesepakatan dengan Hamas, Negara Ini Akan Hancur dari Dalam

Samir Musa
Rabu, 8 Oktober 2025 / 17 Rabiulakhir 1447 07:03
Jenderal ‘Israel’ Peringatkan: Tanpa Kesepakatan dengan Hamas, Negara Ini Akan Hancur dari Dalam
Yitzhak Brik (ist)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Dalam sebuah artikel yang dimuat oleh surat kabar Maariv, jenderal “Israel” yang telah pensiun, Yitzhak Brik, memperingatkan bahwa “Israel” kini berada di titik krusial yang dapat menentukan masa depannya secara politik dan keamanan. Ia menegaskan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dengan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) akan membawa “konsekuensi yang sangat berat” bagi Tel Aviv.

Menurut Brik, Hamas telah menolak rencana yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam bentuknya saat ini, namun di sisi lain menunjukkan kesiapan untuk bernegosiasi. Hal itu, tulisnya, menandakan kepercayaan diri Hamas terhadap kekuatan militernya dan jaringan terowongannya yang luas, serta ketidakgentaran mereka terhadap ancaman “penyelesaian militer” oleh tentara pendudukan “Israel”.

Ancaman yang Kehilangan Arti

Brik menyebut ancaman Trump dan Menteri Pertahanan “Israel” Yisrael Katz—yang memperingatkan bahwa Hamas akan “kehilangan kendali atas Gaza” dan “pintu neraka akan terbuka”—telah kehilangan makna setelah dua tahun perang yang membuktikan keterbatasan kemampuan militer “Israel” dan ketidakmampuannya mewujudkan kemenangan yang kerap dijanjikan.

Ia juga menegaskan bahwa klaim militer “Israel” yang menyebut 60% jaringan terowongan di Gaza telah dihancurkan tidak sesuai kenyataan. Faktanya, kata Brik, hanya kurang dari 20% yang berhasil dihancurkan. Ia menambahkan bahwa perkiraan “Israel” atas kerugian Hamas juga berlebihan, karena jumlah pejuang yang gugur tidak lebih dari 10.000 orang dan telah segera digantikan oleh rekrutan baru.

Pasokan Harian dari Sinai ke Gaza

Brik mengungkapkan bahwa para petinggi militer “Israel” sendiri telah mengakui kegagalan mereka memutus jalur terowongan di bawah Koridor Filadelfi, yang menjadi jalur penting penyelundupan senjata dari Sinai ke Jalur Gaza. Ia menyebut bahwa setiap hari pesawat nirawak masuk dari Semenanjung Sinai membawa amunisi ke Gaza, sementara tentara “Israel” tidak mampu menghentikannya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar—mewakili Perdana Menteri Binyamin Netanyahu yang sedang diburu oleh Mahkamah Pidana Internasional—mengatakan bahwa pemerintahnya tidak terkejut atas permintaan Trump untuk menghentikan pemboman Gaza dan memulai negosiasi dengan Hamas. Namun, Brik menilai langkah itu sebagai bagian dari upaya Netanyahu untuk “menipu opini publik”, dengan menyamakan perilakunya selama perang sebagai “menebar debu di mata rakyat”.

Menurut Brik, pernyataan Netanyahu yang berulang-ulang tentang “mengubah wajah Timur Tengah menjadi lebih baik” sama sekali tidak sesuai kenyataan. Kawasan ini justru sedang mengalami perubahan cepat yang berbalik melawan “Israel”, disertai kemerosotan posisi internasionalnya serta kehancuran di berbagai sektor vital seperti keamanan, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan diplomasi.

“Gonggongan Anjing”

Brik menulis bahwa Hamas memandang ancaman “Israel” seperti “gonggongan anjing yang tidak menghentikan kafilah”. Ia menjelaskan bahwa Hamas menolak tiga poin utama dalam rencana Trump:

  1. Menolak menyerahkan senjatanya atau membubarkan sayap militernya.
  2. Menolak penempatan pasukan internasional di Gaza karena dianggap sebagai bentuk “pendudukan terselubung”.
  3. Menolak menyerahkan semua tawanan sekaligus, karena itu adalah satu-satunya kartu negosiasi yang tersisa.

Brik memperingatkan bahwa sikap keras kepala “Israel” dan penolakannya terhadap kompromi timbal balik akan menggagalkan perundingan dan memperpanjang perang, yang pada akhirnya menjadikan “Israel” pihak yang paling merugi.

Kekalahan Menyeluruh

Ia menegaskan bahwa kelanjutan perang hanya akan menghalangi kembalinya tawanan, menambah jumlah tentara yang tewas dan terluka, tanpa hasil militer yang jelas melawan Hamas. Sebaliknya, menurut Brik, Hamas akan keluar dari perang ini dengan keuntungan strategis yang belum pernah terjadi sebelumnya:

  • Terisolasinya “Israel” dari komunitas internasional dan negara-negara Arab yang telah menandatangani perjanjian damai dengannya,
  • Tertutupnya pintu bagi kesepakatan normalisasi baru,
  • Dan terus runtuhnya negara “Israel” dari berbagai sektor dalam negeri.

Brik juga menyoroti bahwa meningkatnya hubungan antara Amerika Serikat dengan Qatar dan Turki menjadi ancaman yang semakin nyata bagi “Israel”. Ia menyebut bahwa Trump telah mengisyaratkan kemungkinan mengembalikan Turki ke dalam program jet tempur F-35, serta rencana menandatangani perjanjian pertahanan dengan Qatar yang menyatakan setiap serangan terhadap Doha dianggap sebagai serangan terhadap Washington. “Artinya, lingkaran bahaya semakin menutup ‘Israel’, sementara tidak ada kemampuan nyata untuk menghadapi ancaman ini,” tulisnya.

Kebutuhan Mendesak akan Kesepakatan

Brik menyimpulkan bahwa jalan keluar dari krisis ini hanyalah melalui kesepakatan politik yang segera dan penghentian perang secara total melalui perundingan serius dengan konsesi dari kedua pihak. Ia menambahkan bahwa setelah menerima tanggapan Hamas, Trump memerintahkan penghentian serangan udara “Israel” dan memulai pembicaraan—langkah yang seharusnya dilakukan sejak berbulan-bulan lalu untuk menghindari kerugian besar di pihak “Israel”.

Menurutnya, keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada pengawasan ketat Amerika Serikat agar Netanyahu tidak kembali menggagalkannya seperti sebelumnya. Ia memperingatkan bahwa kegagalan jalur politik akan membuat Hamas semakin kuat dalam beberapa bulan mendatang dan menutup seluruh peluang penyelesaian.

Brik menegaskan di akhir tulisannya: “Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan ‘Israel’ adalah dengan menggelar pemilu dini dan mengganti pemerintahan yang ada. Selama Netanyahu masih berkuasa, tak akan ada kesepakatan menyeluruh—dan negara ini akan runtuh dari dalam.”

(Samirmusa/arrahmah.id)