GAZA (Arrahmah.id) - Juru bicara Al-Quds Brigades, Abu Hamza, menyampaikan pidato penghormatan untuk sejumlah komandan dan pejuang brigade yang gugur. Dalam pidatonya, ia juga mengenang pendahulunya, juru bicara sebelumnya, yang gugur bersama keluarganya akibat serangan udara 'Israel'.
Abu Hamza menegaskan pentingnya persatuan dengan seluruh faksi perlawanan Palestina dan menekankan komitmen mereka untuk terus berjuang melawan pendudukan di tanah sendiri.
Pada 18 Maret lalu, hari ketika 'Israel' membatalkan gencatan senjata awal, Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ) berduka atas gugurnya komandan sekaligus juru bicara sayap militernya, Naji Abu Seif, yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hamza. Ia terbunuh dalam serangan 'Israel' yang juga menewaskan keluarganya dan keluarga saudaranya.
Sebagai bentuk penghormatan, juru bicara baru Al-Quds Brigades memilih untuk melanjutkan perjuangan dengan menggunakan nama yang sama: Abu Hamza.
Dalam pernyataan video yang dirilis Rabu malam (22/10/2025), Abu Hamza mengatakan bahwa rakyat Palestina kini berada di “persimpangan sejarah yang menentukan”, sebagai bangsa, umat, dan gerakan perlawanan dalam konteks perjuangan Arab dan Islam yang lebih luas.
Ia menjelaskan bahwa pertempuran ini bukan pilihan, melainkan reaksi atas kejahatan terus-menerus 'Israel' di Yerusalem, Tepi Barat, serta blokade dan serangan mematikan terhadap Jalur Gaza. Ia menegaskan bahwa Al-Quds Brigades telah menjadi bagian integral dari Operasi Banjir Al-Aqsha sejak momen pertamanya.
“Bahkan sebelum tank pertama melintas,” ujar Abu Hamza, “pasukan Al-Quds Brigades sudah berada di lapangan, siap menghadapi musuh dengan seluruh kekuatan tempur kami.”
Menurutnya, perang yang dilancarkan 'Israel' terhadap rakyat Palestina bukanlah respons spontan terhadap operasi perlawanan, melainkan bagian dari rencana yang sudah disiapkan untuk “perang pemusnahan,” dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat.
Abu Hamza menggambarkan tentara pendudukan sebagai pasukan yang “kehilangan kemanusiaan dan nilai,” dan menyebutnya sebagai kekuatan yang rasis serta brutal.
“Kami sepenuhnya sadar akan beratnya jalan ini,” katanya, “namun kami berdiri teguh bersama saudara-saudara kami di Lebanon, Yaman, dan Iran.”
Duka atas Komandan dan Pejuang yang Gugur
Dalam pidatonya, Abu Hamza mengonfirmasi gugurnya ratusan pejuang dan anggota Al-Quds Brigades dari berbagai satuan. Ia juga mengumumkan tewasnya sejumlah anggota Dewan Militer brigade, termasuk juru bicara sebelumnya, Naji Maher Abu Seif.
Sebelumnya, Al-Quds Brigades telah mengumumkan kehilangan ini melalui kanal Telegram resminya, dengan menampilkan foto dan nama para anggota dewan militer yang gugur.
Menutup pidatonya, Abu Hamza berjanji bahwa brigadenya akan terus menjadi kekuatan yang menghadang musuh di tanah Palestina, berapa pun lamanya perjuangan itu berlangsung.
Ia menegaskan, Al-Quds Brigades “tidak akan pernah menyerahkan senjata.”
Abu Hamza juga menekankan kuatnya hubungan antar faksi perlawanan, khususnya dengan Al-Qassam Brigades milik Hamas, dan mengatakan bahwa “ikatan antara keduanya tidak pernah terputus.”
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa Al-Quds Brigades tetap berkomitmen pada gencatan senjata saat ini di Gaza, namun akan “mengawasi dengan cermat” sejauh mana 'Israel' mematuhinya. (zarahamala/arrahmah.id)
